Kamis, 02 Juni 2016

Mengharap Kematian Mendapat Kebahagiaan


Tuntutan kebutuhan hidup serta himpitan ekonomi membuat Subakti benar-benar berputus asa. Ia telah bertekad mengakhiri hidupnya namun ia tidak memiliki keberanian untuk melakukan bunuh diri. Lalu Ia memasuki sebuah hutan rimba dengan harapan ia mati dimangsa binatang buas. Namun, setelah sekian hari ia bejalan dalam hutan dalam keadaan lapar dan dahaga, tak satupun binatang buas dijumpainya dan maut yang ia harapkanpun tak kunjung tiba. Ia semakin putus asa sampai ia kehabisan tenaga hingga tak sadarkan diri di hutan tersebut.

Ia kaget saat menyadari dirinya sedang terbaring di atas sebuah dipan kayu dalam sebuah gubug. Ia telah siuman. Ia mengamati keadaan sekelilingnya, rupanya hari telah malam, dan dalam gubug itu ada lampu minyak menyala di atas meja, tapi tak ada seorangpun dalam gubug itu. Ia heran bagaimana ia bisa berada dalam gubug itu.

Saat keheranannya belum terjawab, terdengar olehnya suara dari luar gubug, “Assalamu’alaikum. Kamu sudah bangun?, minumlah air yang ada di meja itu”. Ia semakin heran. “Wa’alaikum salam” jawabnya. Dalam hatinya mau bertanya kepada pemilik suara itu, tapi belum sempat ia bertanya, pintu gubug terbuka dan tampaklah sesosok lelaki tua kurus tapi terlihat segar bugar dengan wajah bersih bersinar sambil berkata “minumlah dulu biar pulih tenagamu”. Akhirnya ia menuruti apa kata lelaki tua itu, ia minum air hangat yang ada di meja di samping dipan tempat ia berbaring.

Benar saja, setelah ia minum air itu, ia merasa segar dan bisa bediri. Ia hendak mendekati lelaki tua itu dan ingin memarahinya kenapa ia menolongnya. Ia benar-benar ingin mati. Belum sempat ia melangkah, lelaki tua itu berkata dengan lembut “duduklah di kursi itu dan tenangkan hatimu”. Ia tak kuasa menolak perintah yang disampaikan dengan penuh kelembutan oleh kakek itu. Lalu Ia duduk di kursi yang ditunjuk lelaki tua itu. Saat ia duduk, iapun merasa lebih tenang.

“Tidak ada satu orangpun di dunia ini yang luput dari ujian, karena hidup pada hakikatnya adalah ujian”, kata lelaki tua itu. “Kematian tak perlu diundang karena ia pasti akan datang, dan ia hanya akan datang jika memang waktunya datang. Kematian adalah hak setiap yang hidup di dunia ini.”, lanjutnya. Subekti kian terheran, bagaima bisa lelaki tua ini mengetahui tentang dirinya padahal belum sepatah katapun ia sampaikan kepadanya. “Perjalanan hidupmu masih panjang, malam ini tidurlah di sini dulu, besok pagi kamu harus kembali ke kampung halamanmu. Banyak yang bisa kau perbuat dalam mengisi kehidupan di dunia ini sebelum kamu menjalani kehidupan yang lebih kekal”, tutur lelaki tua itu. Lalu lelaki tua itu keluar sambil berkata “segera tidurlah, aku masih ada keperluan di luar. Assalamu’alaikum”. “Wa’alaikum salam”, jawab Subakti.

Ia pun kemudian merebahkan dirinya di atas dipan, dan kemudian segera terlelap. Dalam tidurnya ia bermimpi. Suatu pagi saat ia berjalan-jalan di sebuah perkampungan, ia bertemu dengan lelaki tua itu sedang duduk bersama dua orang lainnya di sebuah surau. Mereka berjubah putih dengan ikat kepala putih. Lalu lelaki tua yang ia kenal itu memanggilnya. “Subekti, kesinilah, masuklah ke surau kami”. Iapun menuruti dan melangkah memasuki surau itu. Setelah sampai di hadapan mereka, lelaki tua yang ia kenal itu mengulurkan tangan dan puisi berantai 4 orang Subekti pun menyambut dan menjabat tangan lelaki tua itu. “Namaku Abdurrahman, dan ini saudaraku yang bernama Abdul Wahid, dan yang ini juga saudaraku yang bernama Abdus-Shamad”, kata lelaki tua yang ternyata bernama Abdurrahman itu.

“Ambillah Air Wudlu di pancuran itu, lalu kita shalat bersama-sama”, kata Abdurrahman kepadanya. Iapun menuruti perintah itu, dan usai Subekti berwudlu’, mereka shalat berjama’ah di surau itu, dan yang menjadi imam adalah Abdurrahman. Usai shalat berjama’ah, berdzikir dan berdo’a, tiga lelaki tua itu mulai mengajarinya berbagai ilmu, mulai dari dzikir hingga beladiri. Subektipun mengikuti dan mempelajari dengan tekun. Ia tak pernah menghitung hari, yang ia tahu hanya belajar kepada tiga lelaki tua itu dan shalat berjama’ah dengan mereka di surau itu.

Sampai akhirnya tiga lelaki tua itu duduk bersama dan Abdurrahman berkata kepada Subekti “Sudah cukup kiranya apa yang harus kami ajarkan kepadamu sebagai bekal hidupmu di dunia ini. Sekarang sudah waktunya kami melakukan tugas yang lain dan kamu bertugas mengamalkan apa yang telah kami ajarkan kepadamu. Kembalilah ke rumahmu”. Subektipun menghaturkan rasa terimakasih kepada mereka lalu berpamitan dan keluar dari surau itu sambil mengucapkan salam “Assalamu’alaikum”, “Wa;alaikum salam” jawab tiga lelaku tua itu serempak.

Demikian dan terima kasih telah membaca Mengharap KematianMendapat Kebahagiaan ini. Semoga dapat menghibur anda. Cerita ini bersambung ke Kisah Di Balik Batu Pancawarna
Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.