Kamis, 10 Desember 2015

Kisah Mistis : Uang Pesugihan, Kisah Mistik Pejaja Uang Baru Menjelang Lebaran

Hati-hati! Ada Uang Pesugihan, Ini Kisah Mistik Pejaja Uang Baru Menjelang Lebaran
Lebaran atau Idul Fitri tidak hanya identik dengan makanan, dan baju baru. Uang baru pun menjadi kebutuhan Lebaran bagi umat Islam. Kebutuhan inilah yang dimanfaatkan penyedia uang baru untuk mengais rejeki. Sejak awal Ramadhan lalu, penyedia uang baru sudah mulai menjajakan uang baru miliknya. Mereka berkumpul di sekitar Tugu Pahlawan.

Bahkan mulai hari ini, penjaja uang baru juga meluber di Jalan Veteran atau Jalan Jembatan Merah. Di antara penjaja mantra mantra jawa uang baru itu adalah Rusmina. Wanita asal Madura ini sudah sekitar 10 kali Ramadhan melakoni bisnis ini.

Untungnya cukup untuk memenuhi kebutuhan selama Lebaran. Dia memperkirakan sekali Ramadhan bisa mendapat untung bersih sekitar Rp 5 juta. Rusmina mengaku mendapat uang baru itu dari pengepul. Pengepul itu datang ke tempat jualannya sekali dalam tiga atau empat hari.
Meskipun berasal dari pengepul, Rusmina memastikan uang baru miliknya asli alias tidak ada yang palsu. “Saya kan sering diberitahu oleh pegawai bank bagaimana caranya melihat uang asli atau palsu,” kata Rusmina, Minggu (28/6/2015).

Rusmina tidak memiliki peralatan apapun, seperti senter ultra violet. Dia cukup mengandalkan raba, lihat, dan terawang setiap kali mendapat uang baru dari pengepul. Tapi saat diminta memperagakan cara mengetahui uang asli, dia hanya tersenyum. Begitu pula saat ditanya ciri-ciri uang asli, dia hanya mengetahui adanya tulisan dan logo Bank Indonesia.

Bukan hanya uang dari pengepul yang rawan palsu. Uang dari pembeli pun rentan palsu. Berbekal pengalamannya membawa uang, Rusmina mengaku tidak pernah mendapat uang palsu. Bahkan Rusmina menegaskan tidak pernah menemukan pembeli yang membawa uang palsu.
“Saya memang tidak pernah mendapat uang palsu. Kalau uang balen, sering sekali,” tambahnya. Rusmina menjelaskan uang balen adalah uang yang diperoleh melalui ritual pesugihan. Bentuk dan warnanya tidak berbeda dengan uang asli. Bahkan saat diraba, dilihat, dan diterawang, tidak berbeda dengan uang asli.

Tapi uang ini akan langsung hilang setelah Rusmina masuk rumah. Padahal sebelum pulang, dia sudah menghitung ulang nominal uang di tas tentengnya. Rata-rata setiap tahun Rusmina mendapat uang balen sekitar Rp 300.000.

“Saya tidak bisa mengingat wajah orangnya. Kan banyak orang yang datang kesini,” terang Rusmina. Pengalaman serupa juga dialami Siti Aminah. Wanita yang juga berasal dari Madura ini pernah menerima uang balen.

Sebagaimana Rusmina, Aminah pun tidak ingat wajah pemilik uang balen itu. Aminah mengaku pernah menerima uang balen sebesar Rp 1 juta.
Bagi Aminah yang hanya ibu rumah tangga, uang Rp 1 juta sangat besar. Tapi Aminah tidak mempermasalahkan kehilangan uang Rp 1 juta. Dia uang itu bukan miliknya. Dia hanya berharap pemilik uang balen segera sadar. “Saya tidak bisa apa-apa. Mau lapor, ya siapa yang mau dilaporkan. Buktinya juga tidak ada,” kata Aminah.
=== ### ===

Info Bank Indonesia Bank Indonesia (BI) menyebutkan temuan uang palsu paling banyak yakni di daerah Jawa Timur. Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang, Suhaedi mengatakan, di Jawa Timur penemuan uang palsu mencapai 148.904 lembar. Menurut dia, tingginya penemuan ini karena adanya kasus penemuan uang palsu di Jember.
 
“Iya karena ada temuan besar-besaran di Jember, jadi saat itu ada laporan kemudian aparat bersama BI langsung melakukan penyitaan, ini belum sempat beredar, sekarang pelakunya sudah divonis 14 tahun dan 8 tahun penjara,” kata Suhaedi di Jakarta, Senin (23/11/2015). Dia mengatakan, tersangka pencetak uang palsu bernama Agus Sugioto dan Abdul Karim telah diputus pengadilan dengan Nomor 361&362/Pid.B/2015/Pn.Jmr 14 tahun penjara dan denda Rp 300 juta.
Image :  ANtara News
Selain itu tersangka lain Aman dan Kasmari telah diputus pengadilan dengan Nomor 359&360/Pid.B/2015/Pn.Jmr 8 tahun dan denda Rp 500 juta.
Selain Jawa Timur, DKI Jakarta menempati posisi kedua temuan uang palsu terbanyak yakni, 49.326 lembar, Jawa Barat 31.439 lembar dan Jawa Tengah 17.254 lembar, Lampung 4.202 lembar, Bali 3.640 lembar, Sumatera utara 3.598 lembar, Daerah Istimewa Yogyakarta 2.548 lembar, Nusa Tenggara Timur (NTT) 2.013 lembar dan Nusa Tenggara Barat (NTB) 1.406 lembar.
Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.