Senin, 31 Agustus 2015

Ketika Menterinya Jokowi ‘Bikin’ Marah Ustadz Yusuf Mansur…

Tak seperti biasa, dai kalem yang terkenal dengan tausiyah sedekahnya ini berkicau penuh emosional. Sebuah berita membuatnya begitu. Namun, sikap tidak normalnya reda setelah menunaikan shalat Zhuhur. Telepon dari Mendikbud Anies Baswedan lantas membuat hatinya semakin adem.

“SEMUUAAA siiy-yaaaappp.. mantra ilmu pelet melalui tatapan mata.!” Seorang ketua kelas berdiri lalu memberi aba-aba. Murid-murid lainnya ikut berdiri. Sebentar kemudian terdengar aba-aba berbeda. Kali ini ia memerintahkan kawan-kawannya untuk memberi salam. Anak-anak seisi ruang kelas pun berbarengan mengucap, “Assalaamu’alaikum warohmatullaahi wabarakaatuh!”

Tak lama setelah itu, para murid mengucapkan syahadat yang juga berbarengan. Ritual pagi tersebut disambung dengan pembacaan doa-doa berbahasa Arab. Diawali persaksian keridhoan mereka kepada Allah. Lalu masing-masing murid berdoa, “Robbi zidnii ‘ilmaa… (Ya Tuhanku, tambahkanlah aku ilmu…).”

Itulah kepingan cerita Ustadz Yusuf Mansur saat duduk di bangku Sekolah Dasar, berpuluh-puluh tahun silam. Dai kondang ini menceritakan rutinitas di kelasnya setiap dimulainya kegiatan belajar-mengajar (KBM) yang begitu berkesan. Saking terkesannya, cerita itu ditulisnya dengan perasaan haru campur bahagia. “Sekadar mengingat-ingat memori SD. Sambil nangis nih dan sambil tertawa juga,” tuturnya melalui akun twitter-nya, Selasa pada pekan kedua Desember ini.

Ada apa dengan ustadz yang rajin menyampaikan tausiyah sedekah ini, kok, tahu-tahu berkicau tentang masa lalu SD-nya? Cerita bermula dari Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta. Di tempat ini, Senin (01/12/2014), Mendikbud Anies Baswedan mengeluarkan pernyataan yang dimuat sebuah media online nasional.

Dalam berita itu, Anies mengatakan, kementeriannya sedang mengevaluasi proses KBM yang selama ini berlangsung di berbagai sekolah negeri. Di antaranya terkait tata tertib (tatib) membuka dan menutup proses belajar.

“Saat ini kita sedang menyusun tatib soal aktivitas ini, bagaimana memulai dan menutup sekolah, termasuk soal doa yang memang menimbulkan masalah. Ini sedang di-review dengan biro hukum,” ujar Anies dalam jumpa pers di kantornya.

Wacana tersebut langsung jadi topik pembicaraan di dunia maya, mengalir dari media massa hingga media sosial. Sampai kemudian diketahui oleh Ustadz Yusuf Mansur. Usai membaca berita itu, Pimpinan Ponpes Daarul Quran, Tangerang, Banten ini kontan bereaksi keras.

Tanpa pengantar apa-apa, sang ustadz berkicau, “#sekolah susah payah kwn2 mengusahakan ada ngaji, doa2, asmaa-ul husnaa di sekolah2 swasta&negeri. tp yaaa ampuuunnn… ada yg mau ngoreksi.”

Kritikan itu dipublis melalui akun resminya, @Yusuf_Mansur, Selasa (9/12/2014). Pada kicauan berikutnya masih dengan hastag #sekolah, ia tampak begitu geram dengan wacana Mendikbud.

Dalam berita yang dibaca dan link-nya dipublis itu, tertulis pernyataan Anies terkait adanya keluhan mengenai pembacaan doa yang didominasi agama tertentu. “Sekolah di Indonesia mempromosikan anak-anak taat menjalankan agama, tapi bukan melaksanakan praktik satu agama saja,” ujar Anies.

Seakan menimpali itu, Yusuf Mansur berkata, selama ini para guru memberlakukan pembacaan doa di sekolah agar para murid mendapat berkah dalam proses KBM dan kehidupannya. “Tapi barusan saya denger kalimat jahat banget, yang menganggap bahwa (pembacaan doa. Red) ini adalah upaya pemaksaan praktik agama,” kicaunya.

180 Derajat Setelah Shalat
Pada twit selanjutnya, dalam pantauan hidayatullah.com, kicauan Yusuf Mansur semakin menampakkan kekegeramannya. Seperti lepas kendali, ia mengatakan Indonesia makin alergi saja dengan Islam dan simbol-simbolnya.

Sampai-sampai ia berkicau begini, “Aaaaammmmpuuuuunnnn… Asli aammmmpppuuuunnnnn, yaaa Allah. Sedih, marah, ngenes…. Pengen cepet-cepet pilpres baru lagi aja. Pengen pilih yang nyata-nyata benar-benar bela agama, tanpa perlu juga berantem. Pengen pilih yang nyata-nyata benar-benar bela agama, tanpa perlu kekerasan.”

“Saya dulu diem dan nge¬bela siapapun yang memerintah. Tapi kalau sampai nyentuh udah urusan kayak doa di awal pagi di sekolah-sekolah, males banget diem,” lanjutnya.

Seiring kicauannya tersebut, tampaknya azan Zhuhur tengah berkumandang. Sang ustadz pun melaksanakan shalat Zhuhur di tempat yang ia tidak sebutkan. Dalam shalatnya, ia mengaku telah menyampaikan keluhannya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Hati dan pikiran pria yang dikenal kalem ini pun mulai tenang. Tapi masih ada yang mengganjalnya, ia merasa bersalah.

“Saya dah shalat (Zhuhur). Saya salah. Tidak tabayyun (kroscek) dulu. Semoga Allah ngampunin saya. Doa saya untuk Indonesia. Hati dah adem. Apapun yang keluar dari mulut menteri, salah ucap atau salah tulis pun, semua kehendak Allah,” kicaunya kemudian.

Yusuf Mansur pun segera menghubungi Anies untuk mengklarifikasi. Belum tersambung. Sembari menunggu bisa terhubung, ia melanjutkan kicauannya. Kali ini isi twit-nya berbeda 180 derajat dengan sesaat sebelum shalat Zuhur. Ia mengungkap permohonan maaf dan perasaan bersalahnya karena sudah marah-marah.

“Ada banyak pelajaran. Salah satunya, saya masih harus belajar kalem lebih luas, lebih lebar. Nggak pendek sumbunya. Tabayyun dulu. Mencermati dulu. Saya belajar lagi. Sejurus setelah saya baca ***** (menyebut nama sebuah media online. Red), saya marah. Padahal itu belum tentu kutipan sempurna. Ya, saya masih nunggu SMS saya dibalas Pak Menteri,” akunya.

Rupanya memang, ia akui jika sebelumnya sedang tidak normal. Dalam kicauannya kemudian, ia menuliskan bahwa dirinya telah kembali seperti sediakala. “I’m normal. I’m back. I’m kalem.”

Hingga jelang Maghrib, ia belum tersambung dengan Anies yang sempat mengirim pesan sedang berada di Jogjakarta. Setelah berusaha saling menelepon dan ber-SMS, komunikasi pun terjalin sekitar 20 menit sebelum Isya. Anies yang meneleponnya. Keduanya lalu berbicara panjang lebar. Yusuf Mansur menyampaikan permohonan maafnya, Anies menyampaikan klarifikasinya.

‘Sindiran’ Upin & Ipin
Selasa malam itu juga, sang ustadz langsung mempublis hasil klarifikasi dari menteri pilihan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tersebut. Kronologi kejadian yang dialaminya hari itu ditulisnya dengan 41 kali twit. Setiap kicauan diawali hastag #doa dan nomor urut postingan.

Intinya, kata Yusuf Mansur, menurut Anies berita wacana pengaturan doa di sekolah-sekolah itu tidak benar. Yang benar, sekolah-sekolah dipersilakan bahkan tetap didorong menjalankan kegiatan doa untuk membuka dan menutup KBM.

“Hanya, bila ada siswa non-Muslim, atau sebaliknya, jika ada siswa Muslim di sana (kelas. Red), kasih hak-haknya untuk boleh tidak ikut. Itu saja,” jelasnya dalam kicauannya.

Suasana di ‘garis waktu’ (timeline) akunnya pun mencair. Apalagi ketika di penghujung kicauannya hari itu, ia menceritakan kenangan lucu dan indah semasa SD. Seperti saat murid-murid menembak cicak dengan karet dan mencabut uban kepala sekolah.

Sebelum itu, dalam kicauannya saat masih menunggu terhubung dengan Anies, Yusuf Mansur sempat menyinggung film Upin & Ipin. Ia bercerita, awalnya sempat protes dengan anak-anaknya yang biasa meniru salah satu adegan dalam film asal negeri jiran itu.

“Anak-anak saya biasa ngucap, ‘…Selamat pagi Cek Gu…’ Saya bilang, kok (meniru) Malaysia siiihhh…?” ujarnya.
[Twit ini seakan menyindir wacana pengaturan doa di sekolah oleh mendikbud]

Tapi ia pun sadar jika kebiasaan itu ada bagusnya. Sebab Cek Gu alias Pak Guru dalam film itu masih memberi salam. Padahal di kelas Upin-Ipin tersebut, seperti diketahui, tak semuanya beragama Islam. Ada Meymey, murid keturunan China beragama Konghucu, dan Jarjit, anak India beragama Hindu. Namun keduanya biasa saja walau Cek Gu selalu mengucap, “Assalaamu’alaikum, ana’-ana’….”
Cuplikan film, yang seakan dikicaukannya untuk menyindir wacana Anies itu, membuat haru Yusuf Mansur. “Yaaa Allah… Terimalah air mataku,” ujarnya kemudian. Walau begitu, ia mengaku akan terus mengawasi jalannya kebijakan Jokowi-Jusuf Kalla beserta kabinetnya.

“Saya akan tetap ikut negor yang bisa saya tegor. Baik itu pemerintah atau siapa aja. Sebaliknya, tegor saya juga jika saya salah. Saya pribadi insya Allah akan tetap turun dan ikut bersuara. Sejauh yang saya bisa, sejauh yang saya mampu. Soal tatib buka tutup (KBM) ini, nggak ada. Jika ada, ya bersuara lagi. Tapi tabayyun dulu, hehehe…,” ujarnya sebelum menutup kicauan.

Sumber : hidayatullah

Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.