Jumat, 02 Januari 2015

Kisah Mistis : Tumbal Pesugihan Pemilik Perusahaan

Cerita Misteri : Tumbal Pesugihan Pemilik Perusahaan
Kisah nyata dan menyeramkan ini dituturkan oleh seseorang yang enggan disebut identitasnya untuk menjaga privasi. Sebagai seorang yang bekerja di sebuah perusahaan perkayuan, dimana dirinya nyaris saja dijadikan tumbal pesugihan pemilik perusahaan. Berikut adalah kisah selengkapnya
******

Setelah sekian lama menganggur tanpa ada penghasilan, akhirnya lelaki ini diterima pada sebuah perusahaan perkayuan di Kalimantan Barat. Meskipun hanya sebagai karyawan harian, namun dirinya begitu senang. Karena dengan demikian lelaki yang sudah lima tahun tak bekerja ini, tak lagi malu di mata orang lain.

Waktu yang ditunggu-tunggu akhir datang juga. Dimana pintu gerbang perusahaan langsung menyambut kedatangannya di hari pertama masuk. Sambil menunggu waktu, dia sempatkan untuk berkeliling area bangunan besar itu, sekalian melihat-lihat suasana gedung, pelataran parkir, gudang serta satu bangunan tua yang menjadi bangunan induk tempat perusahaan besar ini menjalankan aktivitas produksinya.

Bangunan tua yang dirinya maksudkan tadi merupakan satu bangunan bergaya lama yang terletak di daerah kota tua, namun masih memperlihatkan sisi megah yang menyiratkan kejayaan masa lalu pemiliknya.

“Pemilik pasti sangat kaya hingga dapat memiliki gedung besar dan semegah ini. Aku yakin bangunan ini bisa menjadi warisan ilmu pelet wanita bersejarah yang telah dipakai secara turun temurun dari pemilik lama perusahaan ini kepada orang yang sekarang mewarisinya,” ucapnya waktu itu.

Menurut informasi, bangunan bergaya klasik itu banyak menyimpan cerita. Bahkan peristiwa atas jatuh bangunnya bisnis keluarga kaya raya tersebut. Dan dalam suasana pagi yang cerah, dirinya sangat menikmati panorama bangunan tua itu. Namun aneh, tiba-tiba sepertinya ada satu kekuatan lain yang menyergapnya. Dia merasakan seperti ada suara angin yang berhembus lembut, seolah-olah meniup daun telinganya. Sayup-sayup terdengar seperti suara desahan binatang buas di kejauhan yang terbawa angin.

“Ada apa sesungguhnya?” batinnya berucap. Kedua matanya, masih terus asik menikmati bangunan tua itu. Sekilas, tampak gedung megah itu kurang terawatt. Jendela besar berkaca buram, kotor, begitu juga dengan koridor panjang yang melingkarinya. Semuanya terkesan kumuh serta sedikit agak angker. Nahkan, tangga ke lantai atas pun hanya disinari sebuah lampu neon yang cahayanya mulai temaram.

Tak sengaja, pandangannya tertuju ada salah satu jendela yang paling kusam di lantai empat. Entah ruangan apa di atas sana. Sepertinya, ruangan itu hanya disinari oleh cahaya reduplampu. Seketika itu juga semua pandangannya sekan diselimuti oleh hal yang berbau mistis, seolah-olah ada sepasang mata yang sedang bergerak mengawasinya dari atas sana.

“Mungkinkah penunggu gedung tua ini sedang mengawasi gerak-gerikku,” bisiknya dalam hati.

Namun dia segera mengabaikan pikiran itu. Rano, sebut saja demikian, benar-benar sudah memantapkan tekadnya bekerja di perusahaan itu, demi uang dan kebutuhan hidupnya sehari-hari.

“Tunggu sebentar lagi ya, Mas. Bos masih ada urusan. Mohon maaf agak lama menunggu.”
Suara merdu wanita muda mengagetkannya. Rupanya, tidak terasa bahwa Rano sudah satu jam lebih menunggu untuk mendapat giliran masuk wawancara.

Selanjutnya adalah giliran pemuda itu, dan ketika masuk ke ruangan, dia melihat bos besar itu sedang menyantap makan siang dengan sangat rakus. Mulutnya dipenuhi makanan, sementara kedua tangannya sibuk menyendok makanan dan memilah buah-buahan pencuci mulut yang ada di atas meja, seolah tak mempedulikan kehadirannya.

Rano kembali terpana melihat cara orang gemuk itu makan. Hampir menyerupai seekor binatang buas yang baru saja mendapat mangsa. Aneh, bukankah dia seorang bos besar. Meskipun bukan perusahaan nomor satu di provinsi itu, tapi dia adalah seorang bos. Lalu mengapa cara makannya seperti orang kelaparan?

“Ayo, silahkan duduk!” katanya pada Rano. Dengan sungkan, Rano segera duduk di depan meja kerjanya.

Sambil mencuri-curi pandang. Rano mencoba mengamati keadaan ruang kerja sang bos. Sungguh aneh, ruangan besar itu hamper dipenuhi oleh sesajen yang sudah kering. Bahkan, Nampak buah-buahan sesaji yang mulai membusuk hingga airnya menetes mengotori dinding serta karpet lantai. Aneka kue jajanan menjamur diatas meja. Tampak juga beberapa dupa yang masih menyala hingga asapnya memenuhi tiap sudut ruangan. Tak hanya itu, pada dinding serta langit-langit ruangan bergelantungan aneka jimat hingga menambah keunikan ruang kerja ini.

Kembali Rano dibuat semakin takjub, manakala pandangannya mengarah pada sebuah patung besar setinggi hampir 2 meter yang dikelilingi banyak sesaji. Patung ini berdiri tegak disudut ruangan yang agak gelap.

Saat sesi Tanya jawab, ternyata si bos itu memiliki sebentuk wajah yang agak aneh. Matanya sipit karena dia orang cina, namun di balik itu menyerupai mata iblis. Sementara kedua alisnya naik ke atas bak alis para pendekar silat. Saat tersenyum pun dia lebih mirip menyeringai daripada senyuman. Sembari memperlihatkan deretan giginya yang kotor serta tidak terawatt, bahkan masih dipenuhi sisa sisa makanan.

Sekalipun sangat aneh dan menganggu, namun Rano terpaksa harus mengabaikan semua itu. Demi mendapatkan sebuah pekerjaan! Singkat cerita, Rano kemudian diterima bekerja di perusahaan tersebut. Sebagai pekerja harian, lebih tepat lagi cleaning service.

Setelah beberapa lama bekerja, Rano baru menyadari kalau dirinya sebenarnya hanya menjadi umpan kawan-kawan sekantor yang enggan lembur pada setiap Rabu malam atau malam Kamis.

“Hati-hati dengan ada yang ada dilantai empat Ran!” bisik Japar, salah seorang teman sejawat yang baru dikenalnya.

Seluruh Ruangan Kosong
Aneh, peringatan itu bukan hanya datang dari Japar. Bahkan Pak Yopi, seorang satpam di gedung itu juga memperingatkannya agar tidak mencoba-coba naik ke lantai empat sendirian apabila hari telah gelap.

“Saya hanya takut akan terjadi hal buruk pada sampean!” ucap Pak Yopi. Kemudian melanjutkan, “Saya sudah bekerja di sini hampir 13 tahun. Namun sampai sekarang tidak berani naik ke atas.”

Mulanya, Rano tak serius menanggapi cerita-cerita itu. Hingga suatu malam, terjadilah peristiwa itu… Malam itu itu jarum jam telah menunjukkan pukul 20.30. Hampir seluruh ruangan telah kosong. Suasana sepi dan senyap, bahkan kemudian berganti angker. Di luar sana angin berhembus kencang disertai deru hujan.

Rano duduk sendirian sambil terpaku pada dinding. Aneh, tiba-tiba pikirannya melayang ke ruang sepi di lantai empat itu. Kemudian melirik ruang sepi yang bersinar redup itu. Sepertinya, dari arah sana akan memunculkan satu bayangan, bahkan mungkin sesuatu yang mengerikan.

Tak lama, Rano melihat sekelebat bayangan melintas. Rano segera bangkit mengejarnya. Dia mencoba berjalan menuju munculnya bayangna tadi. Tapi, dia tak menemukan siapa-siapa.

Tapi dia yakin telah melihat bayangan. Tapi anehnya, dia menghilang di lorong gelap menuju lantai empat.

Bukannya merasa takut, kejadian itu justru membuatnya semakin penasaran. Kemudian memutuskan untuk menelusuri lorong sepi yang terbentang panjang di depannya itu, sambil berharap bayangan tadi itu muncul lagi. Tak lama Rano menangkap keanehan lagi. Dari ujung koridor gelap itu dia mendengar suara percakapan.

Ketika dirinya dalam kebingungan, jantungnya nyaris copot sebab tiba-tiba ada sebuah tangan menyentuh bahunya. Ketika menoleh, seorang wanita muda telah berdiri di depannya. Dia tersenyum dingin sambil menyodorkan segenggam kertas.

“Mencari siapa bang? Dia bertanya dengan suara datar, disertai raut wajah dingin tanpa ekspresi. Aku diam terpaku. Wanita itu kembali berkata, “Tolong simpan kertas itu di lantai bawah!”

“Bbb..bbaik mbak!” jawab Rano sedikit gemetar. Bulu kuduknya meremang. Dalam hatinya juga bertanya-tanya. “Perempuan ini staff dari bagian apa? Saya belum pernah melihatnya sebelumnya.” Rano bertanya dalam hatinya.

Sambil berusaha menenangkan diri. Rano mencoba bertanya tentang kertas-kertas itu. “Kalau saya boleh tahu, ini kertas apa ya mbak?” Rano bertanya.

“Ini cuma daftar orang yang siap berkorban di sini, sekalipun mereka menolak!” katanya lagi.

“Berkorban? Maksudnya untuk apa?” Rano sedikit kaget sembari terus membolak-balikka dokumen itu.

“Darah mereka!” jawabnya dengan suara agak tertahan.

Kali ini Rano kaget bukan main. Seketika pandangannya berubah gelap. Dan, ketika terang kembali, dia melihat wanita itu sudah tidak ada lagi dihadapannya. Lalu, samar-samar terdengar suara alunan pendek perempuan menyanyi dari arah lorong sepi ini.

Tanpa menunggu lama, Rano kemudian bergegas meninggalkan tempat itu, setelah lebih dulu melemparkan kertas yang disebut dokumen tadi. Pintu pun dibantingnya dengan kencang. Ia bersandar di dalam sebuah ruangan sambil mengatur nafas yang tersengal-sengal.

Satu Persatu Meninggal Dunia
Akibat peristiwa ganjil itu, rasa penasarannya semakin bertambah. Apalagi, pagi setelah malamnya Rano bertemu dengan sosok perempuan misterius itu ternyata ada karyawan yang meninggal. Dia pun semakin ingin tahu.

Belakangan, Rano mulai melihat ada beberapa kejanggalan. Bila dihitung, hamper setiap minggu, satu persatu rekan kerja atau sanak saudara mereka ada saja yang meninggal. Menurut beberapa pegawai senior, setiap yang meninggal raut wajah mereka menyiratkan ada satu hal yang tidak wajar. Kabarnya, wajah jenazah tampak menghitam, punggung, tangan serta kakinya terdapat memar kebiruan, dan mata mereka terbuka, dengan rona wajah mereka seolah habis melihat sesuatu yang amat menakutkan.

Pernah juga terjadi sebuah peristiwa lucu namun menyeramkan. Suatu hari, ada salah seorang manajer di kantor ini yang kerasukan roh seorang perempuan. Sang roh bernama Wulan. Dia telah mati karena bunuh diri 100 tahun silam.

Lucunya, sang manajer yang bertubuh tambun dan galak itu, tiba-tiba dapat berjalan sangat gemulai laksana perempuan. Tak hanya itu, suaranya juga berubah lembut khas wanita muda. Nah dari celoteh Wulan-lah cerita yang sebenarnya bergulir. Termasuk tentang para korban mahluk di lantai empat.

Wulan yang meminjam mulut Pak Wardoyo, sang manajer itu, bercerita bahwa bos besar mereka itu telah meminjam arwahnya sebagai budak suruhan untuk mendapatkan harta. Bahkan, untuk mengikat jiwa seseorang yang dia kehendaki untuk ditaklukkan.

Arwah Wulan juga mengaku bahwa pada hari-hari tertentu dia akan diberi “suguhan khusus” oleh majikannya. Syaratnya, bos mereka itu harus memakan tiga jenis makan kesukaan Wulan dalam jumlah yang amat banyak. Mungkin inilah yang menyebabkan kenapa bos mereka makan dalam jumlah banyak dan nampak rakus.

Rano juga pernah melihat dukun kepercayaan bosnya dating ke lantai empat untuk mengadakan ritual semalam suntuk. Setelah itu, beredarlah cerita dari mulut ke mulut orang dekatnya, bahwa bosnya akan segera memecat beberapa orang karyawan, sebab menurut sang dukun mereka tidak cocok dan harus dikeluarkan.

Yang terjadi selanjutnya, setelah kedatangan dukun itu, suasana di dalam kantor makin kacau. Seringkali terjadi keributan di antara staff dan karyawan. Sejumlah peristiwa aneh juga terjadi. Mulai staff kerasukan, mengalami kecelakaan fatal hingga cacat, bahkan yang meninggal pun ada.

Selain itu, bisnis di perusahaan yang bergerak dalam industry perkayuan itu menjadi tersendat-sendat. Banyak hasil produksi yang tidak laku dijual bahkan dikembalikan karena rusak. Padahal, semua barang produksi yang dikirim dalam keadaan baik tanpa cacat.

Kondisi semacam ini membuat pikiran Rano menjadi tidak karuan. Hingga, pada suatu malam, ketika semua staff dan karyawan telah meninggalkan ruang kerjanya masing-masing, tinggallah Rano sendiri bekerja. Ketika dirinya sedang membereskan dan membersihkan ruangan kerja para staff, tiba-tiba saja ada angin dingin menyapu pundaknya.

Tidak berapa lama, samar-samar Rano mendengar suara perempuan yang seolah sedang merapal mantera. Seketika itu rasa takut di dalam hatinya muncul. Terlebih lagi, lama kelamaan suara itu semakin keras terdengar, meski tidak jelas mantra yang sedang dilantunkannya. Walau begitu, Rano coba memberanikan diri bangkit lalu berjalan ke arah datangnya suara itu.

Dia kemudian membuka pintu koridor ke lantai tiga, yang di duga suara itu bersumber dari sana. Seketika tercium semerbak wangi bunga melati, serta aroma kemenyan. Rano menghentikan langkah untuk sekedar megatur nafas, sambil menenangkan hatinya yang mulai dihantui rasa takut. Hatinya pun kecut bukan main ketika sadar bahwa langkah itu telah sampai di trap tangga terakhir dari sekian anak tangga menuju ruangan di lantai empat.

Sementara itu, suara semakin keras terdengar, diselilingi oleh aroma semerbak bunga dan kemenyan serta anyir darah yang semakin menyengat hidungnya. Sejenak, Rano berdiri terpaku di depan pintu kaca kusam yang membatasi pandangannya ke ruangan bagian dalam. Tangannya bergetar tak sabar ingin membuka pintunya.

Didorongnya pintu itu perlahan. Saat dirinya melangkah tertatih di dalam sauasan temaram, Rano mengenali gerak-gerik sesosok mahluk besar lampu itu. Kakinya pun terasa lemas! Sungguh, dia benar-benar melihat bagaimana makhluk itu sambil menggeram terus menggerogoti mangsanya denga rakus.

Dalam keadaan sangat takut, dia mengenal kalau ternyata mahluk itu wujudnya siluman. Dia sedang mengoyak-oyak sepotong daging merah dengan kuku hitam tajamnya. Setidaknya itulah pandangan gaib yang dia lihat, yang tentu saja tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Namun Rano dapat melihatnya dengan jelas, karena dirinya juga memiliki ilmu supranatural.

Aneh, tiba-tiba lampu di dalam ruangan itu padam. Rano terkejut dan hampir tidak menguasai diri lagi. Bau anyir darah busuk itu sangat menyesakkan dada, hingga kepalanya pusing. Suara dengusan laksana harimau besar itu menghentak jantungnya!

Dalam ruangan gelap itu Rano tidak dapat berbuat apa-apa, selain membalikkan badan menghambur keluar ruangan. Tapi siluman itu tidak tinggal diam. Dia berusaha menangkapnya. Rano kemudian terdorong keluar dari ruangan. Tapi siluman itu tidak tinggal diam. Dia berusaha menangkapnya. Rano kemudian terdorong keluar dari ruangan itu. Di ruangan yang lebar terang itu, Rano cukup jelas melihat wajah mahluk aneh itu, dengan seringai gigi tajamnya yang berlumuran darah.

Rano pun berteriak sekuat tenaga. Tidak sadar, kakinya terpeleset. Tubuhnya terpelanting jatuh berguling-guling menuruni anak tangga sampai ke lantai. Tak khayal lagi seluruh sendi di badannya terasa remuk redam. Kepalnya pusing berat. Bersamaan dengan itu, di telinganya kembali terngiang suara perempuan pembaca mantera tadi. Sambil menahan sakit, Rano segera berlari meninggalkan ruangan….

Seminggu setelah kejadian itu, suatu siang Rano sedang merapikan beberapa barang yang tertumpuk di koridor gelap depan ruangan. Bosnya muncul dengan tiba-tiba. Dia berjalan ke arahnya dengan rona wajah yang tidak bersahabat. Rano segera bangkit untuk member salam. Tidak diduga dia malah mengancam dengan kata-kata yang tidak mengenakan hati.

“Hei…,” sembari jarinya menunjuk ke arah Rano.

“Kamu tahu kalau saya ini orang kaya raya, gua ada uang banyak, ribuan setan, arwah leluhur bahkan jin manapun sudah gua panggil dan gua tundukkan, apalagi  cuma kamu!” cecarnya dengan nada sinis.

“Saya peringatkan! Mahluk besar di lantai empat adalah pelindung saya, seluruh harta saya dia yang jaga, dia amat kuat luar biasa, tidak aka nada yang bias kalahkan dia  punya kekuatan! Dan saya tidak bias mati!” bentaknya lagi.

“Jadi kamu jangan coba-coba ganggu dia punya tempat, apalagi kamu mau jadi pahlawan. Karena bukan di sini tempatnya! Kalau kamu masih butuh makan, kamu kerja baik-baik seperti s bego lainnya atau kamu akan saya keluarkan dari sini!” kejarnya lagi sambil telunjuknya mendorong kening Rano keras-keras.

Setelah itu dia pergi sambil masih terus mengumpat dengan kata-kata yang sangat keras.

Penghinaan bosnya itu memang sungguh menyakiti perasaannya. Harga dirinya telah diinjak-injak oleh bos gendut itu. Namun, bukan ini alasan utamanya untuk berhenti bekerja. Demi Tuhan, sejak peristiwa malam itu, bayangan menyeramkan mahluk itu selalu menghantui nya. Bahkan, dengus nafasnya yang berbau busuk itu serasa begitu dekat dengan hidung dan telinganya.

Walau Rano sangat membutuhkan pekerjaan, namun dia memutuskan untuk segera resign dari perusahaan itu. Dan hari itu, dia kembali duduk di sofa depan ruangan bosnya, menunggu giliran masuk seperti waktu itu. Tapi kali itu bukan untuk mengemis minta pekerjaan, namun dia akan mengundurkan diri.

Tak lama kemudian Rano masuk. Ketika berhadapan dengan bosnya, sedikit pun dia tidak mau melihat wajahnya. Sembari menjawab pertanyaannya, dalam hati Rano terus berdoa dan berdzikir seperti yang pernah diajarkan oleh guru supranaturalnya dulu, serta berusaha tetap menjaga kesadaran pikiran, agar tidak terpengaruh jampi-jampi lewat tatapan matanya yang tajam itu.

Sambil disertai sumpah serapah dari mulut bosnya itu, Rano segera keluar meninggalkan ruangannya. Dengan nama Tuhan, Rano segera tinggalkan kerajaan setan itu untuk kembali kehidupannya yang normal.

Demikianlah sepenggal kisah yang pernah Rano alami. Sekedar informasi bahwa perusahaan itu sekarang sudah tidak ada lagi, alias dirobohkan, bahkan sekarang tinggal lahan kosong tanpa bangunan. Perusahaan itu mengalami kebangkrutan
Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.