Rabu, 23 Juli 2014

Misteri : Teror Kuntilanak Bermuka Rata di Jakarta Timur

Sumber / Penulis : infometafisik
Begitu banyak cerita misteri yang mengisahkan makhluk yang satu ini. Hantu bernama kuntilanak ini digambarkan sebagai sosok wanita berwajah pucat dengan rambut panjang serta memakai gaun putih. Pada umumnya, makhluk ini sering menakuti para korbannya ditempat yang sepi dari keramaian. Namun ilmu pelet wanita kali ini yang Infometafisik ceritakan agak berbeda. Kuntilanak muncul di tengah keramaian orang banyak yang sendang mengaji serta tahlilan. Malam itu sekitar pukul 21.00 WIB. Di Utan Kayu Selatan, Jakarta Timur, nampak sekumpulan orang yang sedang mengaji Yasin serta tahlil di sebuah rumah. 
Rupanya ada salah seorang penduduk yang meninggal dunia. Hadirian yang lebih tua berada di ruangan dalam, sementara para pemudaa duduk di depan rumah dan sebagian memenuhi bahu pinggir jalan. Mereka bersama-sama melantunkan surat Yasin, serta mendoakan agar yang meninggal dunia dapat diampuni dari kesalahan dan dosa semasa hidup di dunia. Di tengah khusyuknya para pemuda membaca Yasin, tiba-tiba kepala mereka seperti ada yang melempari dengan pasir. “Aduh…siapa nih yang iseng melempar pasir, kurang kerjaan kali ya!” cetus Dedi, pemuda setempat. Pemuda yang lain pun merasa kesal karena merasa dipermainkan. Apalagi suasana kala itu sedang dalam keadaan duka. Belum hilang rasa kesal mereka, tiba-tiba terdengar suara wanita tertawa, “Hi…hi…hi…hiiiii…!” Secara serempak para pemuda mendongakan kepala ke atas, dan mereka semua tercengang sekaligus merinding tatkala mereka melihat sesosok wanita berwajah rata dengan rambut panjang bergelayutan di pohon nangka. Makhluk tersebut tertawa seakan hendak menakuti para pemuda yang ada di bawahnya. Hasilnya, para pemuda tersebut sebagian memang ketakutan, bahkan ada yang lari. Para peserta tahlil yang sudah Bapak-bapak, yang berada di dalam berhamburan keluar mendengar suara gaduh. 

Mereka menanyakan ada apa ribut-ribut. Belum selesai mereka bertanya, mereka langsung terkejut ketika melihat penampakan kuntilanak di atas pohon nangka. Mereka baru sadar makhluk itulah yang mengganggu acara tahlilan. Di antara mereka ada yang pemberani dan berkata, “Hai kuntilanak jahaman, enyah kau dari sini pergi sana jauh-jauh!” Namun kata-kata itu malah dibalas dengan tawanya yang khas. Semua merasa bingung dan resah karena makhluk itu tak mau pergi bahkan dia makin menjadi-jadi dengan bergelayutan dan melompat antara satu pohon ke pohon lainnya. Sekali-kali juga dia melempar pasir dan mengenai orang-orang yang ada di bawahnya. Melihat situasi yang tak menguntungkan tersebut, Dedi berinisiatif memanggil Ustadz Husin yang lokasi rumahnya hanya sekitar 300 meter dari rumah tersebut, dan kebetulan tidak ikut tahlil malam itu karena kurang enak badan. Ustadz Husin memang dikenal masyarakat setempat sebagai orang sholeh dan mempunyai kemampuan khusus. Beruntung, tak lama sang Ustadz datang. 

Setiba dilokasi kejadian, Ustadz memandangi makhluk yang masih bergelayutan di atas pohon nangka itu. Dengan nada membujuk Ustadz Husin berkata, “Saya mohon pergilah dari sini jangan ganggu kami, kami dalam keadaan berduka.” Namun kuntilanak itu tak menggubris. Malah dia melempari dengan pasir sembari tertawa. Merasa diremehkan, Ustadz Husin kembali berkata, “Baiklah kalau itu maumu, aku akan mengusirmu secara paksa!” Ustadz Husin pun nampak merapal ayat-ayat tertentu, kemudian kedua telapak tangannya dipadukan, lalu didorong ke arah kuntilanak. Kuntilanak yang mendapat serangan itu tak mampu mengelak. Dia terjungkal, namun secara cepat dia melayang ke atas pucuk pohon. 

Dia diam sejenak seperti menatap penuh dendam kepada Ustadz Husin, kemudian tertawa lepas dan melayang pergi meninggalkan orang-orang yang memandangnya. Semua orang bersyukur makhluk tersebut telah pergi dan mereka pun berterima kasih kepada Ustadz Husin. Acara tahlilan pun kembali dilanjutkan. Pagi harinya masyarakat heboh dengan kejadian tersebut. Kejadian itu menjadi pembicaraan bagi kalangan masyarakat, terutama bagi ibu-ibu. Seperti yang dikatakan ibu Supri, “Rasanya makhluk tersebut bukan sembarang kuntilanak, buktinya wajanya rata. Ini kan beda dengan kuntilanak pada umumnya!” “Ratunya kuntilanak kali, kok nekad datang di tempat orang pada ngaji!” balas ibu yang lainnya. Ustadz Husin membenarkan makhluk tersebut memang bukan kuntilanak biasa. Dia adalah seperti pimpinan kuntilanak di daerah itu. Maksud tujuan penampakannya hanya sekedar menakut-nakuti orang yang sedang mengaji.
Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Sabtu, 19 Juli 2014

[Lyric] Aqua Timez - Eden (OST Magi The Kingdom of Magic]



背を向けあえば 互いは翼になる
けれどもう 僕らには飛び立つ場所などない
Se wo muke aeba tagai wa tsubasa ni naru
Keredo mou bokura ni wa tobitatsu basho nado nai

誰かが涙を流さずとも 僕らが優しくなれていたら
誰かを悪者にしなくても 僕らはヒーローになれたかな
Dareka ga namida wo nagasazu tomo bokura ga yasashiku narete itara
Dareka wo warumono ni shinakute mo bokura wa hiirou ni nareta kana

魔法使いの女の子が 魔法の杖を捨ててでも
握りしめたかった温もりがあるように
僕らが生まれた この世界にきっと背負うものなどない
抱きしめるものばかりなのだから
Mahou tsukai no onnanoko ga mahou no tsue wo sutete demo
Nigiri shimetakatta nukumori ga aru you ni
Bokura ga umareta kono sekai ni kitto seou mono nado nai
Dakishimeru mono bakari na no dakara


僕とあなたが 蝶々結びのように
やわらかく 絡み合い いつかほどけたとしても
空というものは 羽ばたくものではなく
見上げるものだと 潔く 諦められたらいいなぁ
手を取り合って 歩いていけたらいいなぁ
Boku to anata ga chouchou musubi no you ni
Yawarakaku karamiai itsuka hodoketa to shitemo
Sora to iu mono wa habataku mono dewa naku
Miageru monoda to isagiyoku akirameraretara ii naa
Te o toriatte aruite iketara ii naa

大事なものを失ったのか 失ったものが大事なのか
はてなを自分に突きつけても 僕らは素直でいられるかな
Daiji na mono o ushinatta no ka ushinatta mono ga daijina no ka
Hatena wo jibun ni tsukitsukete mo bokura wa sunao de irareru ka na

魔法使いの男の子は もう魔法などなくても
あの子を笑顔にすると決めたんだってさ
大好きな人が 笑っててくれたら
太陽が鳴り止んでも 次の朝を待てるから 恐くなかった
Mahou tsukai no otokonoko wa mou mahou nado nakute mo
Ano ko o egao ni suru to kimetan datte sa
Daisuki na hito ga warattete kuretara
Taiyou ga nari yan demo tsugi no asa o materu kara kowaku nakatta

雨の降る日に 傘を開くようにね
晴れ渡る空の日は 心開いていよう
そして二人で まあるい笑い声を
シャボン玉のように ひとつずつ 浮かべていけたらいいなぁ
Ame no furu hi ni kasa o hiraku you ni ne
Hare wataru sora no hi wa kokoro hiraite iyou
Soshite futari de maarui warai goe o
Shabondama no you ni hitotsu zutsu ukabete iketara ii naa

幼いころパパとママがいて
僕にもあなたにも帰る場所があった
魔法があってもなくても
お金があってもなくても
愛と呼べるなつかしい匂いがあって
何でもない朝 本当はそこに
大切な何もかもがあったこと 今ならわかる
Osanai koro papa to mama ga ite
Boku ni mo anata ni mo kaeru basho ga atta
Mahou ga atte mo nakute mo
Okane ga atte mo nakute mo
Ai to yoberu natsukashii nioi ga atte
Nandemo nai asa hontou wa soko ni
Taisetsu na nani mo kamo ga atta koto ima nara wakaru

あなたも?
Anata mo?
sumber: ilmu pelet birahi ampuh

今 背を向けあえば 互いは翼になる
けれどもう 僕らには飛び立つ場所などない
あなたに出会って 長い旅は終わった
もう遠くなんかない ここでただあなたを抱きしめていよう
もっと強く あなたを抱きしめていよう
Ima se wo muke aeba tagai wa tsubasa ni naru
Keredo mou bokura ni wa tobitatsu basho nado nai
Anata ni deatte nagai tabi wa owatta
Mou tooku nanka nai koko de tada anata o dakishimete iyou
Motto tsuyoku anata o dakishimete iyou
Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Jumat, 11 Juli 2014

Surat Sahabat : Surat Dari Palestina (translate)

Sumber / Penulis : Grup Whatsapp
Seluruh isi surat ini telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dari Bahasa Arab, yang dikirim oleh seseorang bernama Abdullah Al Ghaza yang Mengaku dari Gaza City-Jalur Gaza melalui surat elektronik (Email) dan artikel diterbitkan oleh Buletin Islami
palestina
“Untuk saudaraku di Indonesia, mengapa saya harus memilih dan mengirim surat ini untuk kalian di Indonesia. Namun jika kalian tetap bertanya kepadaku, kenapa? Mungkin satu-satunya jawaban yang saya miliki adalah karena negri kalian berpenduduk muslim terbanyak di punggung bumi ini, bukan demikian saudaraku?

Di saat saya menunaikan ibadah haji beberapa tahun silam, ketika pulang dari melempar jumrah, saya sempat berkenalan dengan salah seorang aktivis dakwah dari jama’ah haji asal Indonesia, dia mengatakan kepadaku, setiap tahun musim haji ada sekitar 205 ribu jama’ah haji berasal dari Indonesia datang ke Baitullah ini. Wah, sungguh jumlah angka yang sangat fantastis dan membuat saya berdecak kagum.

Lalu saya mengatakan kepadanya, saudaraku, jika jumlah jama’ah haji asal Gaza sejak tahun 1987 sampai sekarang digabung, itu belum bisa menyamai jumlah jama’ah haji dari negara kalian dalam satu musim haji saja. Padahal jarak tempat kami ke Baitullah lebih dekat dibanding kalian. Wah pasti uang kalian sangat banyak, apalagi menurut sahabatku itu ada 5% dari rombongan tersebut yang memnunaikan ibadah haji yang kedua kalinya, Subhanallah.

Wahai saudaraku di Indonesia,

Pernah saya berkhayal ilmu pelet wanita dalam hati, kenapa saya dan kami yang ada di Gaza ini, tidak dilahirkan di negri kalian saja. Pasti sangat indah dan mengagumkan. Negri kalian aman, kaya, dan subur, setidaknya itu yang saya ketahui tentang negri kalian.

Pasti ibu-ibu disana amat mudah menyusui bayi-bayinya, susu formula bayi pasti dengan mudah kalian dapoatkan di toko-toko dan para wanita hamil kalian mungkin dengan mudah bersalin di rumah sakit yang mereka inginkan.

Ini yang membuatku iri kepadamu saudaraku, tidak seperti di negri kami ini. Tidak jarang tentara Israel menahan mobil ambulance yang akan mengantarkan istri kami melahirkan di rumah sakit yang lebih lengkap alatnya di daerah Rafah. Sehingga istri kami terpaksa melahirkan di atas mobil, ya di atas mobil saudaraku.!

Susu formula bayi adalah barang langka di Gaza sejak kami diblokade 2 tahun yang lalu, namun istri kami tetap menyusui bayi-bayinya dan menyapihnya hingga 2 tahun lamanya, walau terkadang untuk memperlancar Asi mereka, istri kami rela minum air rendaman gandum.

Namun, mengapa di negri kalian, katanya tidak sedikit kasus pembuangan bayi yang tidak jelas siapa ayah dan ibunya. Terkadang ditemukan mati di parit-parit, selokan, dan tempat sampah. Itu yang kami dapat dari informasi di televisi.

Dan yang membuat saya terkejut dan merinding, ternyata negri kalian adalah negri yang tertinggi kasus aborsinya untuk wilayah Asia. Astaghfirullah. Ada apa dengan kalian? Apakah karena di negri kalian tidak ada konflik bersenjata seperti kami disini, sehingga orang bisa melakukan hal hina seperti itu? Sepertinya kalian belum menghargai arti sebuah nyawa bagi kami disini.

Memang hampir setiap hari di Gaza sejak penyerangan Israel, kami menyaksikan bayi-bayi kami mati. Namun, bukanlah di selokan-selokan atau got-got apalagi di tempat sampah. Mereka mati syahid saudaraku! Mati syahid karena serangan roket tentara Israel!

Kami temukan mereka tak bernyawa lagi di pangkuan ibunya, di bawah puing-puing bangunan rumah kami yang hancur oleh serangan Zionis Israel. Saudaraku, bagi kami nilai seorang bayi adalah aset perjuangan kami terhadap penjajah Yahudi. Mereka adalah mata rantai yang akan menyambung perjuangan kami memerdekakan negri ini.

Perlu kalian ketahui, sejak serangan Israel tanggal 27 Desember 2009,saudara-saudara kami yang syahid sampai 1400 orang, 600 di antaranya adalah anak-anak kami, namun sejak penyerangan itu pula sampai hari ini, kami menyambut lahirnya 3000 bayi baru di jalur Gaza, dan Subhanallah kebanyakan mereka adalah anak laki-laki dan banyak yang kembar, Allahu Akbar!

Wahai saudaraku di Indonesia,

Negri kalian subur dan makmur, tanaman apa saja yang kalian tanam akan tumbuh dan berbuah, namun kenapa di negri kalian masih ada bayi yang kekurangan gizi, menderita busung lapar. Apa karena sulit mencari rizki disana? Apa negri kalian diblokade juga?

Perlu kalian ketahui saudaraku, tidak ada satupun bayi di Gaza yang menderita kekurangan gizi, apalagi sampai mati kelaparan, walau sudah lama kami diblokade. Sungguh kalian terlalu manja! Saya adalah pegawai tata usaha di kantor pemerintahan HAMAS sudah 7 bulan ini belum menerima gaji bulanan saya. Tetapi Allah SWT yang akan mencukupkan rizki untuk kami.

Perlu kalian ketahui pula, bulan ini saja ada sekitar 300 pasang pemuda baru saja melangsungkan pernikahan. Ya, mereka menikah di sela-sela serangan agresi Israel. Mereka mengucapkan akad nikah diantara bunyi letupan bom dan peluru, saudaraku.

Dan Perdana Menteri kami, Ust Isma’il Haniya memberikan santunan awal pernikahan bagi semua keluarga baru tersebut.

Wahai saudaraku di Indonesia,

Terkadang saya pun iri, seandainya saya bisa merasakan pengajian atau halaqah pembinaan di negri antum (anda). Seperti yang diceritakan teman saya, program pengajian kalian pasti bagus, banyak kitab mungkin yang kalian yang telah baca. Dan banyak buku-buku pasti sudah kalian baca. Kalian pun bersemangat kan? Itu karena kalian punya waktu.

Kami tidak memiliki waktu yang banyak disini. Satu jam, ya satu jam itu adalah waktu yang dipatok untuk kami disini untuk halaqah. Setelah itu kami harus terjun ke lapangan jihad, sesuai dengan tugas yang diberikan kepada kami.

Kami disini sangan menanti-nantikan saat halaqah tersebut walau hanya satu jam. Tentu kalian lebih bersyukur. Kalian punya waktu untuk menegakkan rukun-rukun halaqah, seperti ta’aruf, tafahum, dan takaful disana.

Halafalan antum pasti lebih banyak daripada kami. Semua pegawai dan pejuang HAMAS disini wajib menghapal Surah Al-Anfal sebagai nyanyian perang kami, saya menghafal di sela-sela waktu istirahat perang, bagaimana dengan kalian?

Akhir Desember kemarin, saya menghadiri acar wisuda penamatan hafalan 30 Juz anakku yang pertama. Ia merupakan diantara 1000 anak yang tahun ini menghafal Al-Qur’an dan umurnya baru 10 tahun. Saya yakin anak-anak kalian jauh lebih cepat menghapal Al-Qur’an ketimbang anak-anak kimi disini. Di Gaza tidak ada SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) seperti di tempat kalian yang menyebar seperti jamur di musim hujan. Disini anak-anak belajar diantara puing-puing reruntuhan gedung yang hancur, yang tanahnya sudah diratakan, diatasnya diberi beberapa helai daun kurma. Ya, di tempat itu mereka belajar, saudaraku. Bunyi suara setoran hafalan Al-Qur’an mereka bergemuruh dianatara bunyi-bunyi senapan tentara Israel. Ayat-ayat jihad paling cepat mereka hafal, karena memang didepan mereka tafsirnya. Langsung mereka rasakan.

Oh iya, kami harus berterima kasih kepada kalian semua, melihat solidaritas yang kalian perlihatkan kepada masyarakat dunia. Kami menyaksikan aksi demo-demo kalian disini. Subhanallah, kami sangat terhibur. Karena kalian juga merasakan apa yang kami rasakan disini.

Memang banyak masyarakat dunia yang menangisi kami disini, termasuk kalian yang di Indonesia. Namun, bukan tangisan kalian yang kami butuhkan , saudaraku. Biarlah butiran air matamu adalah catatan bukti akhirat yang dicatat Allah sebagai bukti ukhwah kalian kepada kami. Doa-doa dan dana kalian telah kami rasakan manfaatnya.

Oh iya, hari semakin larut, sebentar lagi adalah giliran saya menjaga kantor, tugasku untuk menunggu jika ada telpon dan fax yang masuk. Insya Allah, nanti saya ingin sambung dengan surat yang lain lagi. Salam untuk semua pejuang-pejuang Islam dan ulama-ulama kalian.

Saudaramu di Gaza,
Abdullah Al Ghaza
Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Jumat, 04 Juli 2014

Kisah Mistis : Jejak Biirahi Perempuan Siluman

Sumber / Penulis : oleh Eddraman Hormansyah
Keberadaan makhluk siluman di bumi Tuhan ini memang tidak dapat dibantah lagi. Kepercayaan atas keberadaan makhluk gaib tersebut ternyata sudah berakar sejak zaman nenek moyang di era primitif. Dan di era terkini, para siluman sering memasuki dimensi ruang dan waktu kehidupan manusia di alam nyata. Mereka menggoda, memperdaya, bahkan ingin menguasai insan yang tidak beriman lahir dan batin. Kisah misteri berikut ini merupakan contoh nyata dari sekian banyaknya kasus yang pernah terjadi betapa di antara manusia dan siluman dipercaya dapat hidup bersama dengan memenuhi syarat-syarat yang telah disepakati sebelumnya. Berikut ini sepenggal catatan hitam kehidupannya karena nyaris tergoda sesosok makhluk siluman yang dikenal dengan sebutan siluman buaya. Jejak Birahi Perempuan Siluman

Akhir Nopember tahun 2008, aku dihubungi seorang teman di Medan melalui telepon. Dia menawarkan pekerjaan yang cukup menjanjikan di ibukota Sumatera Utara tersebut. Aku yang sudah cukup lama menganggur setelah di PHK di sebuah pengeboran minyak milik asing di daerah Riau daratan cukup tertarik dengan tawaran teman itu, meskipun untuk sementara harus meninggalkan keluarga di kota Pekanbaru. Aku dan Darwis Tanjung, demikian nama teman tersebut, dulu sama-sama kuliah di Medan pada sebuah perguruan tinggi swasta. Begitu menyandang gelar sarjana ekonomi, aku merantau ke daerah Riau. Diterima bekerja di sana. Sementara Darwis Tanjung lebih senang berwiraswasta, meneruskan usaha orang tuanya yang memiliki toko-toko barang antik dan kuno di berbagai kota di Sumatera. “Untuk sementara kau tinggal saja bersama kami,” ajak Darwis ketika menjemputku di Bandara Polonia Medan. “Bukan ingin menyombongkan diri, rumahku cukup besar di kawasan elit Perumahan Bumi Asri,” susulnya kemudian. Di rumahnya yang cukup mewah itu, aku diperkenalkannya dengan Rasiam, perempuan cantik, berkulit sawo matang dan kedua bola mata agak sipit tersebut menyambut uluran tanganku dengan senyum.

Hari pertama aku berada di Medan, Darwis nampaknya tidak ingin buang-buang waktu. Dia langsung mengajakku ke toko barang antiknya di bilangan Kesawan dan Petisah. Berkenalan dengan petugas dan pelayan toko di sana. Kepada mereka, Darwis menyatakan bahwa aku akan diangkatnya sebagai manajer pemasaran merangkap wakil pemilik usahanya. Pagi itu ketika sarapan, Darwis memberitahukan bahwa untuk selama beberapa hari dia tidak berada di rumah, karena sore nanti dia ikut rombongan dari kantor Dinas Purbakala ke Jakarta guna membahas kasus-kasus pencurian bendabenda kuno peninggalan sejarah dengan instansi terkait. “Selama aku tidak berada di tempat, kau tangani saja semua urusanku di toko-toko Kesawan dan Petisah tersebut!”pesannya ketika aku mengantarkannya ke bandara Polonia, “Namun kalau ada hal-hal yang rumit, jangan segan-segan menghubungiku melalui handphone!”

Malam pertama tinggal berduaan dengan Rasiam sungguh menggelisahkan. Apalagi selama ini sejak aku tinggal bersama mereka, aku dan istri teman ini sangat jarang berkomunikasi. Rasiam merupakan tipe wanita pendiam dan terkesan agak misterius. Saking misteriusnya ilmu pelet wanita, seharian dia suka berkurung dalam kamar saja kendati suaminya sering mengajaknya ngobrol bersama-samaku pada waktu-waktu senggang. Usai makan malam yang disediakan oleh petugas katering, aku mengisi waktu duduk di ruang tamu dengan membaca koran sore. Malam mulai larut ketika merasakan mataku berat, mengantuk. Setelah menutup jendela dan pintu serta menguncinya, aku menyeret kakiku melangkah masuk kamar tidur yang bersebelahan dengan kamar tuan rumah. Baru saja tubuh kubaringkan di tempat tidur, tiba-tiba aku seperti mendengar seseorang mengeluh dan mengaduh-aduh. Aku segera bangkit untuk memastikan dari mana datangnya suara tersebut. Lalu menduga bersumber dari kamar sebelah, kamar tidur pasangan suami istri tersebut.

Sejenak aku tercenung. Maju mundur niatku untuk datang menemui istri teman itu ke kamarnya guna menanyakan apa yang dialaminya. Kiranya kurang elok mendatangi seorang perempuan yang sudah bersuami seorang diri dalam kamar tidurnya. Tapi karena suara mengeluh dan mengaduh terdengar semakin keras, aku menjadi tidak tega juga. Lalu segera menghambur masuk ke kamarnya. Ternyata perempuan ini memang membutuhkan pertolongan, karena di pembaringan tubuhnya kulihat menggeliat geliat menahan kesakitan.

Aku sudah bersiap-siap untuk menghubungi dokter ketika telepon di ruang tamu berdering. Langsung kuangkat, ternyata datang dari Darwis di Jakarta. “Maaf Andi, ada yang terlupa, aku minta tolong agar malam ini dan seterusnya ketika aku tidak di rumah, menyiram dan memandikan sebuah patung buaya yang terbuat dari tembaga dan dibalut besi kuningan yang berada di ruangan khusus penyimpanan barang-barang dagangan di belakang dekat dapur,” kata Darwis dari ujung telepon itu. Aku masih ingin menanyakan sesuatu namun hubungan pembicaraan singkat tersebut telah terputus. Meskipun masih menyimpan pertanyaan dalam hati, aku patuh saja melakukannya lalu bergegas ke tempat penyimpanan barang-barang kuno dan antik tersebut. Di dalamnya nampak beberapa jenis benda-benda berbagai bentuk berjejer merapat ke dinding tembok. Dan tepat di tengah-tengah ruangan itu kelihatan sebuah patung berbentuk buaya sepanjang lebih kurang satu meter sedang dalam posisi tiarap di lantai dan rahang ternganga lebar. Sebagaimana permintaan Darwis, aku segera menyiram patung buaya tersebut dengan air yang tersedia dalam drum ukuran kecil di dekatnya. Ternyata bukan air sembarangan, karena aromanya berbau khas wewangian.

Aku mulai curiga teman ini sudah mempercayai hal-hal yang sifatnya klenik, apalagi ketika air mulai membasahi tubuh patung buaya tadi, rahangnya tiba-tiba menutup. Dan yang paling aneh, bersamaan dengan itu Rasiam tahu-tahu sudah berdiri di dekatku. Memperlihatkan kondisi kesehatannya yang kembali segar bugar dan wajah yang sumringah. Artinya, aku tidak merasa perlu lagi untuk mendatangkan paramedis untuk menyembuhkannya. “Terima kasih, Bang,” ujarnya sambil berlalu. Aku cuma bengong, terima kasih untuk apa? Lagi pula baru itu kudengar dia berkata-kata padaku. Paginya istri teman ini nampak semakin cantik dengan pakaian daster ringkas yang dikenakannya. Tipis, nyaris dia tanpa busana. Kemudian kami terlibat dalam obrolan yang cukup mengasyikkan di depan kaca TV. Saat itu Rasiam benar-benar mengalami perobahan drastis dalam penampilan, tingkah dan perilakunya. Yang semula pendiam dan agak terkesan angkuh menjadi seorang wanita yang senang ngobrol dan rendah hati. Bahkan kuanggap terlalu over acting mengumbar tubuhnya di hadapan pria yang bukan muhrimnya. Kemudian obrolan beralih seputar hubungannya dengan Darwis, yang menurutnya tidak serasi. Dia mengatakan hidupnya bersama pria itu kurang berbahagia karena tidak pernah menikmati hubungan yang sempurna. Kata demi kata dan kalimat demi kalimatnya terdengar sendu dan memprihatinkan. Ibarat orang yang sudah kalah sebelum bertempur. Aku menjadi trenyuh menyimaknya, karena kasus suami istri seperti ini memang sering terjadi. Bagi wanita kemewahan materi bukan segala-galanya, kalau tidak diimbangi dengan kepuasan batin dalam berhubungan badan.

“Bang…..” pelan Rasiam memanggil. “Hmmm…..ada apa?” spontan lamunanku buyar. “Mau menolong saya?” “Menolong bagaimana?” tanyaku sambil memandang wajahnya yang tiba-tiba kuyu dan lesu.“Anu, Bang….” “Anu apa?” “Abang kan sudah lama berteman dengan suamiku?” “Ya, kenapa?” “Jadi kalau abang saya ajak tidur, dia tidak akan marah, bukan?” “Gila kamu, tentu saja dia marah besar, meskipun dia teman baikku!” jawabku agak emosional. “Dalam ajaran agama dan kode etik sosial hal itu sangat terlarang, dan akan menjahanamkan manusia ke lubang neraka!” susulku sedikit mengutip ceramah ceramah agama yang sering aku dengar. Perempuan cantik di depanku menyeringai.

“Tapi saya bukan manusia,” ujarnya kemudian masih nyengir. Bersamaan dengan itu aura mistis menghalangi pandanganku. Aku masih terperangah ketika muncul kekuatan gaib yang menyeretku melangkah membuntutinya masuk ke kamar. Entah bagaimana awalnya, tahu-tahu aku sudah menggeletak berbaring di sebelah Rasiam yang sudah dalam keadaan tidak berpakaian . Layaknya sebagai seekor singa liar yang tengah kelaparan, perempuan itu ‘menyerang’ sambil merobek-robek seluruh pakaianku hingga total . Lalu kedua tangannya bergerak cepat gentayangan kian kemari bersamaan dengan desah biruoahinya yang memuncak.

Tak lama kemudian terasa jantungku nyaris copot dihantui ketakutan ketika bayangan anak-anak dan istriku muncul dalam halusinasi. Mereka berteriakteriak berteriakteriak berusaha mencegah diriku terhindar dari perbuatan terlaknat ini. Spontan aku melepaskan tubuhku sebelum senjata pamungkas milikku berperan aktif. Dalam waktu bersamaan rasa itu menurun ke titik nadir, alatku menjadi loyo dan melempem. Begitu tersadar secara utuh, aku cuma mampu terpana. Sadar, bahwa sebelumnya aku telah dikuasai energi gaib dari luar yang menyebabkan diriku kehilangan akal sehat. Lupa Tuhan, lupa dosa, dan lupa pada keluarga. Dalam hitungan detik kemudian aku menyaksikan penampakan yang aneh dan menyeramkan. Kulihat perempuan cantik ini bangkit dari pembaringan. Perlahan-lahan kepalanya berubah wujud menjadi kepala mirip dengan bentuk kepala seekor buaya dengan rahang terbuka lebar. Pada bagian wajahnya bersisik yang berwarna hijau kehitam-hitaman tersebut tidak terlihat lagi profil Rasiam sebagai wanita cantik, kecuali mulai batas leher ke bawah masih nampak sebagai organ tubuh perempuan tak berpakaian . Kini taring-taring giginya yang runcing dan tajam serta berkilat-kilat terdengar berbunyi, berdetak-detak, layaknya ingin mengunyah-ngunyah organ tubuhku yang saat itu masih dalam keadaan tak berpakain.

Aku coba menjauh, namun makhluk misteri yang berwujud setengah manusia dan setengah hewan tersebut lebih cepat beraksi. Kedua tangannya yang masih berbentuk manusia segera menjangkau ke depan, dan melalui kekuatan yang diluar dugaanku, melemparkan tubuh tak berpakaian hingga melayang-layang di udara yang kemudian meluncur tercampak ke luar kamar melalui jendela yang tengah terbuka. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi. Begitu siuman dan tersadar, yang pertama kali kulihat adalah wajah Darwis Tanjung. Temanku ini menatapku dengan wajah prihatin. “Maaf, karena selama ini aku ingin selalu menutup-nutupi masalah pribadiku ke kamu, Andi…….sehingga kau nyaris saja menjadi korban!” ujarnya dengan nada penyesalan. Selanjutnya Darwis berkisah, bahwa beberapa bulan yang lalu dia pernah membeli sebuah patung buaya kuno dan terkesan antik yang dimiliki oleh seorang warga desa dekat kota Sibolga Tapanuli Tengah. Konon patung buaya tersebut ditemukan si warga di pinggir pantai laut dan menjualnya dengan harga yang pantas pada Darwis yang kebetulan sedang mencari barang barang antik di daerah itu. Lalu memboyongnya ke Medan.

Beberapa orang kolektor benda-benda kuno ingin membelinya dengan harga bervariasi hingga sampai milyar. Bahkan seorang turis dari mancanegara ingin menawar hingga 10 milyar rupiah. Dan Darwis sudah bersiap-siap menjualnya dengan harga tertinggi ketika malamnya dia bermimpi didatangi seorang pria tua mengenakan sorban dan jubah berwarna merah tua. Orang tua tersebut melarang Darwis menjualnya, dan menyuruh agar patung buaya itu pada waktu-waktu tertentu disiram dengan air kembang tujuh rupa. Setelah beberapa kali melakukan arahan pria tua dalam mimpi tersebut, hari itu seorang perempuan cantik datang bertamu ke rumah Darwis. Sang tamu mengaku pemilik patung buaya tersebut, dan meminta agar Darwis mengembalikannya. Sebaliknya kalau ingin memilikinya, si perempuan cantik yang mengaku bernama Rasiam tersebut minta agar Darwis menikahinya secara diam-diam dan rahasia. “Karena aku memang belum berkeluarga, pemilik patung buaya itu kunikahi dengan segala senang hati. Kami menikah diam-diam dan secara rahasia karena calon istriku tersebut tidak memiliki identitas diri yang jelas. Tak punya KTP dan mengaku hidup sebatang kara” lanjut Darwis berkisah. Menurutnya, Rasiam merupakan wanita yang ‘maniak’ yang kemudian hari diketahui dia adalah sosok perempuan siluman. Tegasnya dari komunitas siluman buaya.

Setelah menyimak penuturan kisah Darwis, cukup lama aku termenung saja. Apalagi setelah dia mengatakan, bahwa Rasiam sudah menghilang bersama-sama patung buaya itu. Aku memutuskan untuk pulang ke Pekanbaru karena sangat trauma atas kejadian menyeramkan yang kualami. Siapa tahu perempuan siluman buaya yang maniak tersebut kembali lagi ke rumah teman ini, ingin melampiaskan nafsu biruoahinya yang gagal menguasaiku hari itu. Seminggu setelah tiba di Pekanbaru, aku masih merasa seperti orang linglung. Kepada istri, aku mengatakan bahwa pekerjaan di Medan kurang sesuai dengan bakat dan pendidikanku, sehingga memutuskan untuk berhenti. Pengalaman mistis yang kualami bersama perempuan siluman buaya sengaja kututup rapat-rapat, biarlah hal itu kuanggap sebagai sepenggal catatan hitam dalam sejarah hidup. Namun melihat keadaanku begitu kembali ke Pekanbaru seperti mengalami amnesia, istriku kemudian segera membawaku berobat secara alternatif. Pakar kejiwaan yang menguasai masalah supranatural mengatakan diriku mengalami traumatis karena pernah mengalami hal-hal yang sifatnya mistis dan magis. Cukup lama juga diriku diterapi hingga kembali normal seperti semula. Beberapa bulan kemudian, aku baru mendapat kabar, bahwa temanku Darwis Tanjung tewas dalam kecelakaan lalu lintas di jalur perlintasan kereta api. Kejadian itu sehari setelah aku berada kembali di Pekanbaru. Rumah gedung mewahnya di perumahan Bumi Asri dikabarkan terbakar, ludes menjadi abu. Toko barang antik almarhum di bilangan Kesawan dan Petisah menjadi rebutan dan sengketa dari para ahli waris yang tidak jelas. (Berdasarkan penuturan narasumber yang kini berdomisili di Pekanbaru, Riau kepada penulis)
Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya