Minggu, 29 Juni 2014

Kisah Mistis : Ritual Gaib Untuk Kekasih Tercinta

Sumber / Penulis :  (oleh: Nofriadi)
Malin merupakan pemuda yang sangat baik dan bisa menghargai teman apalagi kaum hawa. Namun sifat baik tak selamanya dihargai manusia di zaman sekarang ini. Hidup materialistis telah membutakan mata hati sebagian orang di zaman ini. Setidaknya itulah yang dirasakan Malin yang kebetulan teman penulis.

Ritual Gaib Untuk Kekasih Tercinta
Hanya karena belum punya pekerjaan tetap, cinta yang telah lama dirajut, kandas diterjang ombak kehidupan. Masih segar dalam ingatan Malin, akan keindahan sebuah cinta yang terjalin dengan seorang dara, sebut saja bernama Rena.
Hari-hari mereka lalui, bak dunia milik berdua nyaris tanpa permasalahan “Uda…Rena sungguh beruntung mendapatkan laki-laki seperti Uda yang sangat baik dan penuh pengertian.” Kata Rena setengah merayu.

“Uda pun merasa beruntung mendapatkan wanita seperti Rena. Sudah cantik wajahnya, keibuan lagi..” Balas Malin tak kalah romantisnya.
Setelah berjalan beberapa tahun dan berbagai masalah pun dapat mereka atasi bersama. Sepanjang jalan, akhirnya sampailah kami pada gerbang petaka yang mampu merobek ilmu pelet wanita jaring cinta yang selama ini kami rajut dengan benang kasih sayang dengan renda saling percaya.
Orang tua Rena yang selama ini baik, tiba-tiba sangat membenci Malin. Karena mengetahui kalau Malin belu mapam kehidupannya alias pengangguran. Rena yang tidak tahu apa-apa ikut menanggung akibatnya.
Tanpa sepengetahuan Rena, mamanya telah menemui salah seorang dukun. Melalui perantara dukun ini, pikiran Rena dicuci sehingga ia lupa akan diri Malin, orang yang selama ini sangat dicintainya.

Karena sedikian lama tidak bertemu, rasa rindu dan kangen pun berkecamuk dalam dada Malin. Rasa rindu yang begitu mendalam tidak dapat lagi ditahan Malin. Dengan keberanian yang dimilikinya, Malin pun mendatangi kediaman Rena sekedar melepaskan rasa rindu yang selama ini telah menyiksa perasaannya.
“Heh…Malin! Anak saya tidak mencintai kamu…kenapa masih berani datang ke sini! Apa kamu sudah gila…” kata orang tua Rena dengan angkuhnya.
Sungguh panas rasa hati Malin mendapatkan kata-kata yang begitu menghina dirinya. Malin yang selama ini baik dan penyabar, tidak dapat menerima perkataan yang dilontarkan orang tua Rena. Ibarat kata pepatah “sudah luka…disiram air garam pula”.
“Dia telah mengatakan gila. Oleh karena itu, ia harus bermenantukan orang gila ini!” kata Malin membantin.

Tidak ada kayu jenjang di keeping, tidak ada rotan akar pun jadi. Setidaknyanya pribahasa inilah yang terpatri di hati Malin. Berangkat dari rasa sakit hati, Malin menemui seorang rekannya, sebut saja bernama Bahar. Melalui petunjuk Bahar, Malin mulai ritual yang dianggapnya mampu mengembalikan sang pujaan hatinya.
Ritual yang dimulai dengan memasukan garam yang telah diberi mantera kedalam mulut ayam yang sedang mengerami telurnya. Setelah itu, Malin di suruh mencabut bulu liar ayam tersebut. Ini dimaksudkan mencabut sifat Rena yang telah berani melupakannya.
Setelah beberapa hari ritual yang dilakukannya pun selesai. Namun setelah dua puluh satu hari dimana batas waktu yang ditentukan belum juga ada tanda-tanda kalau Rena akan menemui saya. Sadar ritual yang dijalaninya gagal, Malin pun bertandang ke rumah penulis.
Saya yang merasa kasihan, mencoba menghibur dan memberikan pandangan terhadap Malin.
“Jujur, saya sangat kehilangan dan tiap malam selalu teringat Rena. Tolonglah…bantu saya.” Harap Malin kala itu.

Karena Malin tampaknya telah bulat tekadnya, sayapun mengantar Malin kepada salah seorang teman yang mengerti akan ilmu gaib. Oleh teman saya yang bernama Rajo Intan, Malin disuruh menyediakan minyak misik, limau purut dan benang tujuh ragam.
Dengan media beda tersebut, Rajo Intan mulai melakukan ritual penarikan sukma Rena agar kembali mencintai Malin. Setelah di rituali, sebagian benda tersebut disuruh di tanam dimana Rena akan lewat. Sebagian lagi di suruh ditanam di persimpangan yang banyak dilalui orang.
Kali ini, Malin pun melakukan apa yang disuruh Rajo Intan demi kembalinya sang kekasih yang begitu dicintainya. Setelah beberapa hari, Malin pun kembali terbentur pada tembok kegagalan.
“Lin, bukan saya beralasan. Tapi Rena telah dipagari oleh orang tuanya. Rasanya sulit ditembus oleh satu orang.” Kata Rajo Intan sedikit memberi pengertian terhadap Malin.
“Lantas? Jalan apa yang harus dilakukan?” Kata Malin dengan penuh harapan.
“Uda nanti akan coba meminta bantuan pada guru Uda yang di Solok. Agar lebih mudah membobol pagar gaib yang dipasang ditubuh Rena,” jawab Rajo Intan memberi sedikit harapan pada Malin.

Dua hari berikutnya, Malin di suruh Rajo Intan ke Cupak yang terletak di daerah Solok untuk menemui salah seorang guru Rajo Intan, sebut saja bernama Rajo Sati. Rajo Sati pun mulai melakukan berbagai ritual untuk mengembalikan Rena kepangkuan Malin dan selain itu Malin pun diberi sebuah zimat untuk pagar diri kalau ada serangan balik dari pihak orang tua Rena.
Entah sudah berapa uang dan waktu yang dihabiskan Malin hanya untuk sebuah kata yakni CINTA. Tanpa terasa, waktu yang di tentukan Rajo Sati pun sampai. Namun sejauh ini tidak juga ada tanda-tanda kalau Rena akan menemui Malin. Ini sungguh sebuah pukulan yang telak mengenai hati sanubari Malin, sehingga sempat membuat Malin seperti kapal tanpa haluan.
Sungguh berat penderitaan batin yang dialami oleh Malin. Sampai-sampai sempat terlintas dalam pikirannya, kalau hidup ini tak berarti lagi. Penulis yang paham kondisi Malin, mencoba memberi semangat dan saran agar  jangan sampai patah arang. Sehingga berujung ke jalan yang dilarang agama.
Untung kata-kata penulis didengarkan oleh Malin sehingga bisa membuat penulis sedikit lega. Suasana ini berlangsung satu bulan lebih lamanya dimana wajah Rena tidak lagi menari di pelupuk mata malin.

Sayang, suasana yang kondusif ini kembali mengalami goncangan yang hebat. Setelah mendengarkan hasutan dari salah seorang teman Malin. “Lin, kok mau saja melupakan Rena. Dia kan telah menyakitimu. Seharusnya kamu itu bisa membuat dia bertekuk lutut dihadapanmu!” Kata teman Malin di kala itu.
Kata-kata dari teman Malin ini sungguh sangat luar biasa. Malin yang mulai melupakan Rena, kembali menjadi haus akan cinta seorang gadis yakni Rena. Namun sebelum melangkah, kembali Malin menemui penulis, untuk bertukar pikiran akan masalah yang dihadapinya.
Waktu bertandang inilah, tanpa sengaja Malin melihat tumpukan Majalah di rak buku penulis. Majalah yang tak lain yakni Majalah Misteri yang menjadi bacaan penulis dikala waktu senggang.
Saat membolak-balik majalah ini, Malin tertarik dengan salah seorang paranormal yang mengiklankan ilmu pengasihnya. Demi menjaga privasi paranormal dimaksud, sengaja namanya tidak penulis tulis.

Penulis yang sadar akan sebuah bahasa iklan mencoba menasehati Malin agar jangan termakan bahasa iklan yang banyak dibumbui fatamorgana. Sayang, tanpa sepengetahuan penulis, Malin melaksanakan niatnya dan menghubungi paranormal yang dimaksud.
Paranormal tersebut menyarankan agar menggunakan Aji Puter Giling untuk menarik kembali sukma Rena. Ilmu yang telah dipindahkan pada selembar kain merah berbentuk rajahan ditambah dengan sebuah keris kecil sebagai penajamnya. Melalui petunjuk paranormal tersebut, Malin pun mulai melakukan ritual yang diberikan oleh paranormal dimaksud.
Ritual yang dimulai dengan memasukkan foto Malin dan Rena, kemudian keris kecil tersebut dibungkus dengan kain rajahan Aji Puter Giling. Setelah dibungkus, baru ditanam ke dalam tanah dan ritual pun selesai.
Setelah dua minggu berjalan tidak juga ada tanda-tanda kalau ritual yang telah dijalankan akan berhasil. Karena penasaran, Malin pun menghubungi paranormal melalui telepon.

“Pak. Saya telah melakukan semua petunjuk yang bapak berikan, namun sampai saat ini tidak juga ada tanda-tanda kalau Rena akan menemui saya.” Kata Malin menyampaikan keluhannya.
“Tenang saja. Nanti kalau mencapai empat puluh hari, pasti ia akan menemui kamu.” Jawab seseorang di seberang sana.
Namun, sayang seribu sayang, kali ini pun Malin kembali menelan pil kegagalan yang sangat pahit dan menyesakan dada. Dengan beruntunnya kegagalan demi kegagalan, membuat Malin sadar akan sebuah takdir dan jodoh yang tidak dapat dipaksakan.

Sekalipun segala upaya telah dilakukan kalau belum jodoh, tetap saja terbentur pada tembok yang sangat kuat dan kokoh. Dan hanya segelintir orang saja yang berhasil memaksakan kemauannya. Itupun kalau lagi mujur dan dikabulkan oleh sang Pencipta Alam Semesta.
Mari kita bersikap realistis dan jangan menentang takdir. Sebab segala sesuatu yang dipaksakan juga tidak baik jadinya. Semoga tulisan ini dapat dijadkan pelajaran seperti kata pepatah di Minang, “Alam terkembang akan menjadi guru.”
Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Jumat, 27 Juni 2014

Kisah Mistis : Gara-Gara Terjerat Hutang Anak Sendiri Ditumbalkan

Sumber / Penulis : Eko Hartono
Sesungguhnya, kemiskinan yang menimpa hidup manusia adalah bagian dari cobaan dan ujian. Karena itu kita tidak perlu merasa sedih dan putus asa. Yang terpenting adalah menghadapinya dengan penuh kesabaran dan tetap berikhtiar atau berusaha melalui jalan yang diridhoi Tuhan.
Ingatlah, tak ada makhluk di dunia ini yang tidak dijamin rejekinya oleh Allah. Lagi pula Allah juga tidak akan membebani manusia dengan kesuliatan hidup yang melebihi kemampuannya. Berusaha dengan sungguh-sungguh disertai dengan doa yang khusuk kepada Allah niscaya akan diberikan jalan kelapangan dan kemudahan.
Gara-Gara Terjerat Hutang Anak Sendiri Ditumbalkan
Mungkin itulah yang seharusnya dilakukan oleh Sugiyanto saat dibelit kesulitan ekonomi yang memberatkan hidupnya. Tapi sayang, akalnya yang pendek, ditambah dengan keimanannya yang lemah, membuat dia nekad menemui seorang dukun sesat. Nah, dari sinilah kisah menyedihkan, sekaligus mengerikan dijalani oleh Sugiyanto.

Bagaimanakah kisah selengkapnya? Kepada Misteri Sugiyanto menceritakan pengalamannya yang terjadi beberapa tahun silam itu…
Pengalaman yang sangat mencekam dan seumur-umur tidak akan pernah bisa dia lupakan ini sunggu tak ingin diulanginya lagi. Bila mengingatnya, Sugiyanto jadi merinding dan ngeri bukan main. Rasa penyelasan begitu berat menyelimuti hatinya. Ucapan istigfar tak henti-hentinya terucap dari bibirnya yang kering. Ya, masih terbayang dalam ingatannya adegan sadis dan menyeramkan yang terpampang di hadapan matanya itu. Dengan mata kepala sendiri dia menyaksikan perempuan tua itu memotong-motong tubuh bayi yang masih merah, lalu dengan rakus memakan dagingnya. Dimulai dari kaki, tangan, sampai jantung si bayi yang hanya sebesar buah sawo.

Begitu lahapnya dukun tua itu menyantap tiap bagian tubuhnya, sehingga tak ubahnya seperti sedang menikmati daging ayam goreng. Apakah perempuan tua itu seorang kanibal?
Sugiyanto pernah mendengar tentang kasus mutilasi yang terjadi di tengah masyarakat. Tapi baru kali ini dia melihatnya secara langsung. Bahkan rasanya ini lebih sadis dan tak berperikemanusiaan. Bayangkan, daging bayi dijadikan santapan lezat. Huak! Sugiyanto sampai tak kuat melihatnya dan ingin muntah. Tapi dia mencoba untuk menahan diri dan tetap diam. Dia hanya bisa menelan rasa jijik itu. Tiba-tiba, sebuah perasaan bersalah dan berdosa menghujami dadanya. Dia sadar, apa yang telah diperbuatnya ini telah melanggar hukum negara. Lebih dari itu, mengingkari norma agama yang dianutnya.

Tapi apa boleh buat. Sebuah tuntutan, atau lebih tepatnya keterdesakan membuat dia tak punya pilihan lain. Hutangnya yang menumpuk dan telah jatuh tempo harus segera dia lunasi. Bahkan, salah seorang rentenir lewat debt kolektornya mengancam akan menghabisi nyawanya bila dia tak segera melunasi hutangnya. Dalam keadaan bingung, kacau, putus asa, dan tertekan, Sugiyanto kemudian lari kepada seorang dukun sakti ILMU PELET WANITA yang konon bisa membantu kesulitannya. Ssebelumnya, dia memperoleh informasi dari salah seorang kenalannya bahwa di tengah hutan Sonoloyo yang terkenal angker dan wingit, tinggal seorang perempuan tua sakti bernama Nyi Saketi. Konon, siapa saja yang bertemu dengannya dan meminta bantuannya maka bakal dikabulkan. Dengan catatan, mau menjalankan segala apa yang diperintahkannya.

Setelah menempuh perjalanan yang sangat berat dan melelahkan, akhirnya Sugiyanto berhasil bertemu Nyai Saketi. Perempuan tua itu tinggal sendirian di sebuah gubuk reot di tengah hutan.
Begitu sampai di hadapannya Sugiyanto langsung mengutarakan maksud kedatangannya. Nyai Saketi mengangguk-angguk. Dia lalu mengemukakan sebuah syarat kepada Sugiyanto untuk membawakan bayi merah yang masih hidup atau baru saja mati. Bayi itu nantinya akan dijadikan tumbal untuk memenuhi permintaan Sugiyanto.

Sebenarnya, sangat berat bagi Sugiyanto memenuhi perimintaan itu. Tapi karena tak ada pilihan lain akhirnya dia menyanggupi. Dia lalu kembali ke kota dan berusaha mencari bayi seperti yang diminta Nyai Saketi. Agar memudahkan usahanya, Sugyanto hilir mudik di sekitar rumah sakit bersalin. Sempat ada niat untuk menculik bayi yang baru dilahirkan biar lebih cepat, tapi dia mengurungkan niatnya. Dia takut ketahuan dan dipenjara. Lagi pula kasihan orang tua si bayi.
Secara kebetulan di sebuah klinik bersalin ada seorang ibu melahirkan bayinya dan mati. Dengan pura-pura sebagai kerabatnya, Sugiyanto mengambil bayi yang telah meninggal itu. Dia membungkus bayi itu dengan kain dan memasukkannya dalam tas. Pikirnya, orang tua sang bayi tak akan begitu kehilangan sebab bayinya sudah meninggal. Lagi pula, Nyai Saketi sendiri tak keberatan menerima bayi yang sudah meninggal.

Saat itu Sugiyanto merasa tidak bersalah. Dia kembali ke gubuk Nyai Saketi dan menyerahkan mayat bayi yang baru berusia beberapa jam itu. Tadinya Sugiyanto berpikir, mayat bayi itu hanya akan dijadikan sesaji dan kemudian dikubur. Tapi apa yang terjadi kemudian sungguh membuat Sugiyanto terkejut, tertegun, sekaligus ngeri. Bayangkan, tanpa banyak kata Nyai Saketi memotong-motong tubuh bayi yang masih merah itu dan memakan tiap potongnya seperti layaknya memakan ayam goreng. Perut Sugiyanto jadi mual dan eneg. Tapi dia  hanya bisa terdiam dan tak berusaha mencegah perbuatan Nyai Saketi. Tampak mulut Nyai Saketi berselemotkan darah.
Mungkin karena sudah kekenyangan, Nyai Saketi tidak memakan semua tubuh sang bayi. Dia hanya memakan tangan, kaki, dan jantungnya. Selebihnya dia meminta Sugiyanto untuk mengubur jasad sang bayi.

Dengan tangan gemetar dan perasaan bercampur aduk tak karuan, Sugiyanto mengubur tubuh mungil itu. Dia masih belum mengerti, apa maksud dari tindakan Nyai Saketi dengan memakan mayat bayi.
Ya, Sugiyanto hanya bisa memendam perasaan tidak mengerti itu dalam hatinya. Dia mencoba tak memusingkan hal itu. Yang lebih penting adalah realisasi dari janji Nyai Saketi yang akan membantu kesulitan hidupnya. “Lalu, bagaimana dengan permintaan saya, Nyai?” tanya Sugiyanto memberanikan diri. “Pulanglah! Apa yang kamu inginkan sudah terpenuhi. Hutang-hutangmu bakal lunas dan kamu akan mendapatkan kekayaan!” jawab Nyai Saketi.
Sugiyanto sempat bingung dan tak mengerti. Tapi akhirnya dia pulang juga ke rumah. Dan ketika sampai di rumah, dia sangat terkejut mendengar kabar menggembirakan dari sang isteri.
“Syukur kepada Tuhan, Mas! Aku sudah dapat hadiah seratus juta rupiah dari undian sabun! Wah, hutang-hutang kita bakal bisa dilunasi semua. Kita tak jadi gembel jalanan,” seru Haryati, girang bukan main.

Sugiyanto jadi tersenyum senang. Dia yakin, rejeki nomplok yang diterima keluarganya ini, merupakan buah dari kesaktian Nyai Saketi. Dukun sakti itu benar-benar ampuh. Belum lama dia memberikan tumbal mayat bayi, permintaannya langsung terkabul.
Tapi Sugiyanto tak ingin menceritakan tentang Nyai Saketi kepada isterinya. Biar ini menjadi rahasia pribadinya. Yang penting isteri dan anak-anaknya hidup bahagia.
Selanjutnya hidup Sugiyanto seperti ketiban pulung. Rejeki mengalir terus tak henti. Ada saja keberuntungan yang didapat olehnya. Mulai dari dapat pekerjaan dengan posisi mapan, nembus undian, dikasih objekan basah dari teman, sampai dapat komisi jutaan rupiah.
Pokoknya hidup Sugiyanto berubah seratus delapan puluh derajat. Kini dia dan keluarga tidak lagi tinggal di rumah kontrakan yang sempit dan kumuh, tapi sudah punya rumah sendiri yang besar dan mewah. Dia bisa membeli perabotan luks, ponsel, mobil, dan barang-barang serba mewah lainnya. Pendeknya, kesejahteraan keluarganya terjamin.
Kebahagiaan yang dirasakan Sugiyanto menjadi bertambah ketika isterinya hamil lagi. Berarti dirinya akan memiliki anak ke-3. Tak ada perasaan risau dan khawatir kelak anaknya akan hidup sengsara, karena kekayaannya bisa untuk menghidupi tujuh turunan.

Dengan penuh perhatian dan kasih sayang Sugiyanto menjaga isteri yang sedang hamil. Hingga akhirnya tiba masa persalinan. Sugiyanto menunggui proses kelahiran itu. Namun betapa terkejut dan terpukul batinnya saat anak yang ditunggu telah lahir, wujudnya sungguh sangat memprihatinkan dan mengerikan. Selain tidak memiliki kedua tangan dan kaki, jantung bayi juga mengalami kelainan. Tak terbayangkan betapa shock, sedih, dan terpukul Sugiyanto mendapati anaknya yang cacat itu.
Tiba-tiba Sugiyanto teringat dengan Nyai Saketi. Jangan-jangan apa yang terjadi ini buah dari perbuatan Nyai Saketi dulu yang pernah memakan mayat bayi. Sesungguhnya, tumbal yang dimaksud Nyai Saketi tak lain adalah anaknya sendiri.
Tidak terima dengan kenyataan ini, Sugiyanto segera ke hutan Sonoloyo untuk mencari Nyai Saketi. Selain ingin meminta bantuan memulihkan keadaan bayinya, Sugiyanto juga berharap Nyai Saketi menarik syarat tumbalnya. Tapi, sesampainya di tengah hutan Sonoloyo, Sugiyanto tak mendapati gubuk milik Nyai Saketi. Wanita tua itu seperti lenyap ditelan bumi. Ketika Sugiyanto bertanya kepada penduduk sekitar daerah itu, mereka tidak ada yang tahu dan kenal dengan Nyai Saketi.

Dalam keadaan sedih, putus asa, dan kecewa, tiba-tiba Sugiyanto bertemu dengan seorang laki-laki tua berambut putih dan berpakaian sederhana. Orang tua itu sepertinya bisa membaca kesusahan hati Sugiyanto. “Ketahuilah, Nak. Sesungguhnya Nyai Saketi yang pernah kamu temui itu bukanlah manusia. Dia adalah penjelmaan setan. Dia tak pernah berusaha untuk membantu kesulitanmu, melainkan justru ingin menghancurkan dan menjerumuskan hidupmu. Mumpung belum terlambat, kembalilah kepada Allah dan bertobat nashuha. Gantungkan sepenuh hidupmu kepada Allah. Niscaya kamu dan keluargamu akan selamat dunia maupun akherat!”

Setelah memberikan wejangan orang tua yang arif dan bijaksana itu kemudian pergi. Seperti mendapat kesadaran baru, Sugiyanto tiba-tiba menangis tergugu. Dia menyadari bahwa semua yang terjadi ini adalah buah dari kesalahannya sendiri.
Sugiyanto segera bersujud dan memohon ampun kepada Allah. Dia berjanji tidak akan mengulangi perbuatan sesatnya lagi. Dia akan berusaha menghapus dosa-dosanya dengan banyak melakukan amal kebajikan. Meski terasa pedih dan berat, Sugiyanto berusaha menerima kenyataan pahit ini. Dia akan tetap merawat dan memelihara anaknya yang cacat. Karena bagaimanapun anak itu adalah amanah dari Allah. Sugiyanto lalu mengajak keluarganya untuk lebih menekuni sholat dan ibadah yang disyariatkan agama. Dia tidak peduli kekayaannya akan habis guna mengobati dan merawat anaknya yang cacat. Baginya, harta duniawi sudah tidak ada artinya lagi, karena semua itu tak akan dibawa bila dirinya mati.

Setelah berjalan dua tahun, anaknya yang cacat itu dipanggil Yang Maha Kuasa. Meski terasa sedih dan berat, namun Sugiyanto mengikhlaskannya. Mungkin itu lebih baik daripada anaknya harus menderita bila tumbuh dewasa. Dia sendiri tidak menyesal bila hidup keluarganya kembali jatuh miskin seperti dulu. Dia menerima dengan penuh keridhoan. Dia justru merasa bahagia dan tenang dengan keadaannya yang sekarang. Karena dalam keadaan hidup yang pas-pasan, dia bisa lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan.

Sugiyanto kini berubah menjadi orang yang rajin dan tekun beribadah. Bila kemudian dia berkenan menceritakan pengalamannya ini kepada Misteri, semata untuk peringatan dan pelajaran agar kita semua tidak mengikuti jalan sesat yang pernah ditempuhnya dahulu.
Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Kamis, 26 Juni 2014

Kisah Mistis : Hidup Serumah Bersama Hantu

Sumber / Penulis :  (Oleh : AJ Prayitno)
Cerita ini dimulai semenjak kepindahanku bersama ibu dan dua kakak perempuanku, karena ayahku sudah tiada 10 tahun yang lalu, dari kota Semarang ke Solo. Sebelumnya aku bersama Kak Rania terlebih dahulu mencari rumah kontrakan untuk tempat tinggal sementara sambil mencari rumah baru yang bisa kami beli. Setelah berkeliling Kota Solo, berikut mencari informasi dari kerabat dan teman-teman yang tinggal di Solo, kami menemukan sebuah rumah yang melebihi harapan kami. Rumah itu asri dan indah sekaligus bersih. Pintu dan jendela pun lebar dan luas, bercat putih dan berlantai dua. Ada juga taman dan patung anak kecil di dalam rumah, dilengkapi dengan garasi mobil. Pokoknya melebihi harapan dan cukuplah buat kami berempat tinggal disini, terlebih harga kontrakannya terbilang murah. Akhirnya kami memutuskan mengontrak rumah ini, sambil mencari rumah lain yang bisa kami beli nantinya.
Hidup Serumah Bersama Hantu
Andai kelak pemiliknya berniat menjual, mau juga kami membelinya asalkan harganya cocok. Satu hari, dua hari … Sampai satu bulan lebih tidak terjadi apa-apa. Kami merasa nyaman tinggal di rumah ini. Namun ketika mendekati bulan ke dua aku mengalami kejadian-kejadian yang aneh yang di luar akal pikiran. Awalnya aku hanya sering bermimpi buruk. Aku juga pernah mengalami tindihan, seolah ada bayangan besar dan hitam yang menindihku. Dengan napas terengah-engah aku berusaha bangun sambil membaca doa-doa Ilmu Pelet Wanita yang aku ingat. Syukurlah aku bisa terbangun. Kejadian semacam ini sering terulang. Mulanya aku menganggap hanya mimpi biasa. Menurut orang Jawa tindihan terjadi akibat salah posisi saat tidur. Namun semakin lama aku merasakan ada yang tidak beres dengan rumah kontrakan ini. Pernah aku lihat, walau di siang hari, sekelebat bayangan anak laki laki kecil berpakaian putih lusuh dan kotor, seperti pakaian anak anak jalanan. Wujudnya seperti anak anak biasa lainnya suka berlari-lari dan suka mengintip malu-malu.

Ketika hal itu aku ceritakan kepada yang lain, ternyata mereka juga sering mengalami hal-hal yang aneh. Kak Nita pernah marahmarah karena pintu yang sudah digerendhel, dibuka kembali, digerendhel lagi terbuka lagi, begitu seterusnya. Kak Nita mengira salah satu adiknya yang mengerjainya. Ia kemudian ke kamar kami, namun semua kamar tertutup rapat. Tidak ada tanda-tanda diantara adiknya yang masih bangun. Spontan Kak Nita merinding. Apalagi dia merasa ada bayangan hitam yang mengikutinya. Buru-buru Kak Nita membangunkan ibu dan menumpang tidur bersama ibu. Semenjak kejadian tersebut, kami memutuskan satu kamar dipakai buat dua orang, aku bersama ibu, Kak Nita dengan Kak Rania. Seperti biasa pagi itu aku bersantai di dalam kamar sambil membaca baca buku. Di rumah juga ada Kak Nita dan Kak Nita yang sedang sibuk menyiapkan masakan di ruang dapur belakang. Tetapi aku merasa dibelakangku berkelebat bayangan.

Aku kira itu bayangan kakakku yang tengah mondar- mandir dari ruang makan ke dapur. Jadi akau tidak terlalu hirau. Setelah berjalan beberapa saat aku memutuskan bergabung dengan Kak Nita. Saat itu aku mengira lauk yang sedari tadi aku tunggu sudah matang. “Kak, aku lapar. Sudah mateng belum masakannya? Aku bantu ya?“ selorohku sambil merangkul badan Kak Nita yang sedang duduk di depan meja makan dari belakang. Kak Nita diam saja dan tersenyum. Aku merasa agak aneh dengan tabiat kakakku yang satu ini. Biasanya dia suka bawel dan sering marah-marah ketimbang tersenyum. Banyak kemudian pertanyaanku yang dijawab hanya dengan seulas senyum tapi tak satu patah katapun keluar dari mulutnya. Tumben Kak Nita lembut sekali, kataku dalam hati. Tetapi aku juga tidak begitu perhatian sih. Soalnya kadang, dia juga suka ngerjai aku. Jadi mungkin saja saat ini dia sengaja mengerjaiku.

Tiba-tiba aku merasa seperti ada yang menyuruhku pergi. Aku pun ngeloyor ke lantai atas sambil membawa novel yang akan aku baca sambil menunggu masakan kakak. Sesampai di lantai atas aku buka pintu kamar hendak mengambil. Namun ketika aku balik badan keluar dari kamar, kok ada seseorang sedang duduk membelakangiku didekat jendela ruangan lantai atas. Lho kok ada Kak Nita di sini? “Sedang apa Kak? Emang masaknya sudah selesai?” tegurku. “Rona, ngapain kamu nanya-nanya segala?!” sahut Kak Nita dengan suara kesal. ”Tadi kan Kakak masak di lantai bawah?“ tanyaku lagi tanpa menghiraukan rasa kesalnya. “Dari tadi aku baca koran di sini, cari iklan rumah yang mau dijual. Biar ibu saja yang masak, nanti aku menyusul,”jawab Kak Nita. Waduhh, jadi yang tadi aku rangkul siapa? tanyaku dalam hati. Rasa takut tiba-tiba menyergapku sampai wajahku pucat.

“Ada apa, Rona? Mengapa wajahmu jadi pucat begitu?“ tanya Kak Nita sambil memegang tanganku. “Lho, tanganmu juga dingin begini. Ada apa?“
Akhirnya aku ceritakan yang aku lakukan di lantai bawah tadi. Kak Nita ikut bergidik mendengar ceritaku. Padahal Kak Nita terkenal paling berani di antara kami. Kami lantas menceritakan pengalaman ini ke ibu, tapi ibu bilang agar kami tidak usah takut. “Selama iman kita kepada Allah SWT kuat kita pasti dilindungi olehNya,” kata Ibu. Sejak kejadian itu kami sekeluarga jadi tambah giat bersembahyang dan tidak pernah lupa berdoa sebelum tidur. Namun kejadian demi kejadian masih sering bermunculan seperti yang dialami Kak Rania, kakak keduaku. Ketika berada dalam rumah, dia merasa ada yang mengikutinya dimanapun dia pergi. Sebenarnya dia enggan menceritakan ke kami karena tidak ingin membuat seisi rumah ketakutan. Namun karena aku sudah membukanya, Kak Rania pun menceritakan kisah yang dialaminya.

Menurut Kak Rania, saat itu sudah lewat tengah malam, sekitar pukul 01.00 WIB. Kak Rania hendak menunaikan sholat malam seperti yang biasa dia lakukan waktu di rumah kami yang lama. Namun kali ini ia lakukan karena berbagai peristiwa ganjil yang dialaminya. Dia segera membangunkan ibu untuk menemaninya sholat malam. Pernah juga waktu ibu kehilangan kunci lemari yang menyuruh kami semua anak-anaknya untuk semua menolong mencari dimana kunci itu. Tapi tetap tidak ketemu. Baru keesokan harinya kunci itu tergeletak di lantai atas yang mudah untuk di lihat. Padahal kemarin kami juga sudah mencari ke tempat ini dan sama sekali tidak ada. Menurut itu gerendel atau pintu kamar dalam, juga sering terbuka sendiri waktu malam. Namun ibu tidak pernah mau menceritakan kejadian-kejadian aneh tersebut kalau kami tidak memintanya.

Kejadian demi kejadian ganjil terus berlanjut sampai empat bulan kami tinggal di rumah itu. Lama-kelamaan kami merasa sudah semakin terbiasa dengan kejadian aneh dan ganjil tersebut dan berusaha menerimanya dengan tabah dan tawakal. Ada juga tetangga yang menasehati kami untuk pindah saja dari rumah itu. Ada juga yang menawari untuk mengusir hantu-hantu itu di rumah kami. Tetapi ibu menolaknya karena yakin selama keluarga kami tidak berbuat yang dilarang Tuhan dan selalu berdoa, maka makhluk-makhluk gaib itu juga akan segan kepada kami. Sebagai sama-sama hamba ciptaan Tuhan yang tinggal di muka bumi ini, sepantasnyalah untuk tidak saling mengganggu satu sama lain.

Prinsip inilah yang ditekankan ibu kepada kami dalam menyikapi kejadian-kejadian aneh di rumah kami. “Kita hidup di dunia yang sama tapi dengan alam yang berbeda. Satu di alam fana atau alam nyata dan yang satu di alam halus atau alam gaib, jadi seharusnya tidak saling mengganggu satu sama lain,” kata Ibu. Benar juga, setelah adanya “saling pengertian” itu, kejadian aneh di rumah kami mulai berkurang. Kami sekeluarga pun mengucapkan syukur kepada Tuhan karena bisa melewati cobaan ini. Sekarang kami sekeluarga sudah pindah dari rumah itu. Kami membeli rumah bekas dari orang yang pindah ke kota lain. Letaknya hanya bertaut satu jalan dari rumah angker itu. Alhamdulillah, di rumah baru kami tidak ada kejadian-kejadian ganjil lagi. Sementara rumah angker bekas kontrakan kami dulu, sekarang dikontrak orang lain.

Namun kami prihatin karena kabarnya orang yang mengontraknya sering diganggu kejadian-kejadian gaib seperti kami dulu. Bahkan kini tetangga di depan rumah angker itu juga ikut terkena dampaknya. Mereka sering mendengar suara jeritan wanita, raungan harimau dan suara denting lonceng. Kadang juga muncul bayangan hitam yang sangat besar, makhluk berwajah putih rata, anak-anak kecil berpakaian lusuh seperti pengemis dan lain-lain. Semua itu sudah pernah kami lalui. Andai saja prinsip keluarga kami diterapkan, pastilah orang yang mengontrak rumah angker itu, dan juga
tetangganya, tidak akan diganggu.

Dimuat di Majalah Misteri edisi 421
Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Misteri : Mustika Ular Pemberian Datu Amin Kelaru

Sumber / Penulis :  Goenawan WE 

Suku Dayak Benuag dan Tunjung meyakini betapa mereka berasal dari leluhur yang dikenal dengan sebutan Tamerikukng — karena keturunannya melakukan suatu kesalahan, akhirnya, mereka pun berubah ujud dan tersebar di beberapa tempat di seantero Pulau Borneo. Dan mereka inilah yang sering disebut sebagai “Roh” atau makhluk halus yang memiliki tugas serta fungsi masing-masing dan mukim di seluruh alam, seperti di langit, bumi, air dan sebagainya.
Mustika Ular Pemberian Datu Amin Kelaru
Walau hidup di alam yang tak kasat mata, namun, mereka memiliki kebutuhan yang sebagian besar sama dengan yang dibutuhkan manusia pada umumnya. Dalam kepercayaan lama inilah, sejatinya, hubungan dua alam yang bersanding dan hanya terpisahkan oleh kabut misteri terjalin dengan erat — dan keadaan itu hanya terasakan oleh manusia yang masih alami, atau manusia yang masih memanusiakan manusia dan masih menghargai alam semesta. Dan tak dapat dipungkiri, pengejawantahan dari sikap menghargai itulah yang dapat membuka tabir dimensi misteri tersebut yang oleh sebagian besar masyarakat Dayak diyakini sebagai Dunia Ilmu Magis.

Masyarakat Dayak meyakini, wujud ketaatan dan kesetiaan mereka terhadap “roh” akan mendapatkan berkah dan imbalan dalam berbagai bentuk. Sebaliknya, ketidaktaatan akan membawa mereka ke jurang kehancuran. Oleh karena itu, mereka selalu berusaha untuk bisa berkomunikasi dengan “roh-roh” tersebut lewat cara-cara Ilmu Pelet Wanita yang seringkali tidak bisa diterima dengan akal sehat.
Menurut pakar kebudayaan Tanah Borneo, Dalmasius Madrah T, pada dasarnya, ilmu magis dibagi menjadi dua bagian; Yakni; Ilmu Magis Panas; ilmu yang dipakai atau dapat mencelakakan orang yang disukai. Contoh dari ilmu ini adalah rasutn dan bongkaaq eqaau yang sangat mematikan. Sedang yang tidak membahayakan namun digolongkan dalam ilmu magis panas adalah ilmu kebal. Sementara, Ilmu Magis Dingin; ilmu yang berfungsi untuk mengantisipasi, menangkal, dan mengobati ilmu magis yang dipasang atau dikirim oleh pihak lawan. Bahkan, bisa juga digunakan untuk pengobatan penyakit madis.

Seperti biasa, bagi seseorang yang berniat mendapatkan ilmu tersebut di atas, maka, ia harus mencari sumber (guru-pen) yang tepat atau yang sesuai dengan keinginannya. Yang paling menarik adalah, walau berbagai kajian ilmiah telah dilakukan dan banyak bukti nyata di dalam hidup dan kehidupan sehari-hari, tetapi, konsep magis yang memang sulit untuk diterima dengan akal sehat itu tetap saja tak bisa terungkap dengan sejelas-jelasnya.
Selain dari mencari sumber (guru-pen), ada pula yang ingin mendapatkan ilmu magis dengan cara “betapa” (bertapa-pen) sebagaimana yang dilakukan oleh leluhur Bung Dani-i-Dani yang mendapatkan warisan berupa batu berbentuk mirip telur yang terlilit oleh seekor ular. Dan sampai sekarang mereka meyakini, inilah yang disebut sebagai mustika ular.

Bermula, ketika itu, daerah Tumbang Samba terserang oleh wabah penyakit yang mematikan. Tak ada yang mereka bisa lakukan di desa yang demikian terpencil itu kecuali hanya berharap dan berdoa - Pada saatnya, sang kakek pun berendam di Sungai Kahayan. Waktu terus berlalu hingga suatu hari, ia ia ditemui oleh penguasa Sungai Kahayan yang mengaku bernama Datu Amin Kelaru. Dan dari pertemuan dua makhluk yang berbeda alam itulah, ia pun mendapatkan sebuah batu mirip telur yang dililit oleh seekor ular. Singkat kata, dengan daya magis batu tersebut, akhirnya, sang kakek pun berhasil menyembuhkan masyarakat di desanya yang terkena penyakit aneh tersebut.
Meski mustika ular itu didapat dengan jalan betapa (bertapa-pen), tetapi, benda yang oleh suku dayak diyakini memiliki kekuatan atau kesaktian itu pada waktu-waktu tertentu biasa meminta imbalan berupa makanan dan minuman sebagaimana yang kita kenal dengan sebutan sesaji.

Sudah barang tentu, silang pendapat akan hal tersebut di atas selalu terjadi di tengah-tengah masyarakat. Namun, masyarakat suku Dayak melakukan hal tersebut sebagai (meminjam istilah Khanjeng Joko-pen) “tali asih” antara sesama makhluk ciptaan Tuhan. Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, hal tersebut kadang berkebalikan. Seharusnya manusia yang diciptakan lebih sempurna ketimbang makhluk lain diptaanNya itu memberi “sesaji” sebagai sedekah bagi mahkluk yang lebi rendah — bukan sebaliknya.
Setelah sang kakek meninggalkan dunia nan fana ini, akhirnya, mustika ular tersebut diwariskan kepada cucunya, Bung Dani-i-Dani. Pemuda inilah yang akhirnya menjadi penerus sang kakek dalam memberikan pelayanan pengobatan baik medis maupun non medis di daerahnya. Tumbang Samba.

Sampai sekarang, tiap malam Jumat, Bung Dani-i-Dani selalu memberikan sesaji berupa bunga 3 atau 7 macam — dan salah satu di antaranya harus bunga melati, serta kopi manis dan kopi pahit masing-masing segelas, sementara, mustika ular itu diletakan di sebuah piring yang sebelumnya telah ditaburi dengan segenggam beras. keadaan inilah yang membuat kakek Bung Dani bertekad untuk betapa (bertapa-pen) di Sungai Kahayan untuk mendapatkan pencerahan guna mengatasi penyakit yang kian hari kian merajalela itu.

Kini, ditangan Dani-i-Dani, mustika ular yang berdaya gaib tinggi itu berhasil dioptimalkan untuk  berbagai hal. Selain pengobatan, mustika ular ini berhasil juga mendongkrak nilai guna dalam hal ekonomi. Di antaranya, penglarisan dagang, memperlancar usaha dan keperluan pagar gaib yang dikenal dengan sebutan kamaat (penjaga gaib yang setia). Yang terakhir ini memang dapat diperoleh dengan cara nemaai (diperoleh dengan pembayaran dan tata cara tertentu). Singkat kata, untuk membeli kamaat bukanlah suatu pekerjaan yang mudah — karena diperlukan kesungguhan, selain harus berhasil meyakinkan si pemilik kamaat agar mau berbagi. Pada dasarnya, kamaat bukan barang dagangan, hanya saja, bagi yang serius ingin mendapatkannya harus mau berbagi.

Demikian sekelumit legenda, tetapi nyata, dan sampai tulisan ini diturunkan masih bisa ditemui di Desa Tumbang Samba.
Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Minggu, 22 Juni 2014

Misteri : Menyingkap Mitos Pesugihan Gunung Kawi

Sumber / Penulis Oleh : Rafi Syahari
Gunung Kawi di desa Wonosari,  Kecamatan Wonosari, Malang, Jawa Timur  dikenal sebagai tempat untuk ngalap  berkah. Yang paling sering terdengar adalah  sebagai tempat untuk mencari pesugihan.
Kabarnya ribuan tuyul pesugihan tersedia  di lokasi ini. Nyatanya, di lokasi ini justru dibangun tempat ibadah untuk semua  agama. Benarkah cerita tentang pesugihan  tuyul tersebut? 
Misteri : Menyingkap Mitos Pesugihan Gunung Kawi (oleh: Rafi Syahari)
“Pesugihan mencari tuyul itu memang sering ditanyakan pengunjung ke juru kunci atau pengurus di lokasi makam gunung  Kawi ini. Namun sebetulnya sama sekali tak ada pesugihan tuyul di lokasi keramat ini,” ujar Sukiman (56), salah seorang pengurus di komplek makam gunung Kawi.
Menurut lelaki yang bertugas di ruang kesenian wayang kulit ini, image yang  selama ini didengar masyarakat, yaitu tuyul pesugihan memang sangat kuat. Ia dan semua warga gunung Kawi juga heran kenapa cerita tentang tuyul pesugihan itu justru lebih kuat daripada ziarah di makam keramat di atas gunung Kawi. Jika mendengar tentang gunung Kawi bayangan yang muncul selalu pesugihan tuyul, bukan yang lain.
Di lokasi gunung Kawi sendiri secara resmi terdapat makam keramat. Yaitu makam dari Kanjeng Kyai  Zakaria II dari kerabat keraton Kartosuro serta Raden Mas Iman Soedjono dari kerabat keraton Yogyakarta. Di pusara dua makam inilah biasanya pengunjung datang untuk berziarah. Karena kesaktian dua tokoh itu semasa hidupnya, banyak peziarah yang percaya bahwa berziarah di makam ini juga mendatangkan berkah tersendiri.

“Itulah sebab, banyak yang berziarah sekalian ngalap berkah di sini. Namun untuk jenis pesugihan tuyul sama sekali tidak ada. Bahkan semua peziarah yang kami layani biasanya adalah umat beragama yang taat bersembahyang,” lanjut lelaki yang sering memimpin pentas wayang di komplek gunung Kawi.
Di lokasi atau kompleks makam gunung Kawi memang dibangun beberapa tempat ibadah. Mulai dari masjid, kelenteng atau wihara. Sehingga semua peziarah, mulai umat Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, biasanya menyempatkan diri untuk beribadah di tempat ibadah masing-masing itu. Baik sebelum atau sesudah berziarah mereka biasanya akan beribadah sesuai keyakinan masing-masing. Pendatang gunung Kawi juga sangat multi ras. Mulai Ras Jawa, Madura, Bali, sampai keturunan Tionghoa.

Malah dari dulu hingga sekarang pengunjung keturunan Tionghoa dikenal mendominasi dalam daftar tamu pengunjung. Sehingga orang sering menyebut bahwa gunung Kawi adalah tempat Ilmu Pelet Wanita favorit, bagi orang-orang bermata sipit untuk ngalap berkah. Dan kenyataannya memang demikian. Setiap malam Senin Pahing dan Jumat Legi selalu penuh dengan pengunjung dari keturunan Tionghoa.
Malam Senin Pahing dan malam Jumat Legi dipercaya merupakan hari kelahiran dari dua tokoh di makam keramat Gunung Kawi. Jadi kedua hari itulah yang dianggap paling penting atau paling sakral bagi
pengunjung. Meskipun demikian di hari-hari lain selain kedua hari itu pun, pengunjung tetap berdatangan ke lokasi. Ini bukti bahwa kehebatan tuah gunung Kawi memang sangat kesohor dan begitu
melegenda dalam masyarakat.
Lantas bagaimana sebenarnya ritual berziarah atau ngalap berkah di gunung Kawi ini?
“Ritual ngalap berkah yang sesungguhnya biasanya dilakukan pada waktu malam hari sekitar pukul 21.00 ke
atas,” imbuh Sukiman.
Di siang hari atau sore hari sebenarnya banyak juga pengunjung yang datang untuk berziarah ataupun ngalap berkah. Namun bagi yang percaya tentang tuah gaib dari makam keramat di sini, memilih
waktu di malam hari. Dipercaya saat malam hari, keinginan pengunjung lebih banyak dikabulkan daripada siang ataupun sore hari. Pengunjung di siang ataupun sore hari biasanya berasal dari jauh, atau
belum mengenal kebiasaan di gunung Kawi dengan baik.
Setiap hari, terutama di malam hari puluhan pengunjung selalu datang silih berganti. Bahkan di malam Senin Pahing dan Jumat Legi bisa mencapai ratusan. Di bulan Suro, konon jumlah pengunjung bisa
mencapai ribuan per harinya. Sehingga lokasi parkir pengunjung dibangun atau ditambah hingga di desa paling bawah dari gunung Kawi.
“Ritual ngalap berkah bisa dilakukan pengunjung setelah kelambu penutup makam keramat dibuka oleh ketua dari juru kunci gunung Kawi,” terangnya.
Namun sebelumnya, petugas makam dan juru kunci mengadakan ritual pembuka terlebih dahulu. Ritual itu mereka lakukan terpisah dengan ritual dari para pengunjung. Ketua juru kunci biasanya akan dijemput sekitar pukul 21.00 malam.
Sebelum jam tersebut para cantrik atau anggota juru kunci yang biasanya menjemput akan tetap berada di kantor makam. Bahkan meskipun didesak atau dipaksa oleh pengunjung yang tidak sabar mereka tidak bergeming. Bahkan ketua juru kunci juga tidak bisa ditemui sekitar satu jam sebelum ritual dimulai. Konon, ia melakukan semedi satu jam sebelum ritual dimulai. Bagi pengunjung yang ingin menemui atau
berkonsultasi dengan ketua juru kunci bisa menunggu hingga ritual selesai. Biasanya ritual selesai sekitar pukul 01.00 dini hari.
Setelah ketua juru kunci dijemput oleh para cantrik, maka pintu ruangan utama makam mulai siap untuk dibuka. Selama menunggu sang ketua dijemput, para cantrik atau petugas lain menyiapkan perlengkapan ritual. Diantaranya membakar dupa dan menyiapkan sesajian lain. Dupa itu diletakkan di beberapa titik atau sudut ruangan makam. Paling banyak di sekitar pusara makam. Secara resmi pengunjung dilarang membawa apalagi menyalakan dupa sendiri di ruangan makam.
Pengunjung hanya boleh membawa bunga untuk ritual tabur bunga di makam.
“Bunga yang dibawa pengunjung juga tidak boleh sembarangan, hanya boleh dibeli di dalam komplek makam Gunung Kawi,” terang Sukiman panjang lebar tentang aturan bagi pengunjung di lokasi
gunung Kawi.
Bunga-bunga itu memang didominasi oleh jenis mawar merah. Bunga dalam nampan besar biasa dijual Rp 5 ribu pada hari-hari biasa. Sedangkan nampan kecil dijual Rp 3 ribu. Pengunjung bisa membawa
bunga sekaligus nampannya sampai ke pusara makam. Nanti setelah ritual selesai nampan itu bisa ditinggal ke juru kunci.
Selanjutnya nanti si juru kunci sendiri yang akan mengembalikan nampan-nampan bunga itu pada penjual bunga di komplek makam. Nampan-nampan itu tidak pernah tertukar, karena ada kode khusus di
wadahnya masing-masing penjual. Setelah ketua juru kunci dijemput, mereka berjalan dan berbaris dalam posisi dua-dua. Paling depan adalah ketua juru kunci. Saat ini ketua juru kuncinya adalah pak Nanang (58). Dialah yang dipercaya juga menjadi ketua Yayasan Ngesti Gondo.
Yayasan inilah yang mengurus dan merawat segala hal yang berkaitan dengan komplek makam Gunung Kawi. Mereka berjalan berbaris tepat di depan tangga pintu utama ruangan makam. Di hari-hari biasa mereka hanya berjumlah 4 hingga 6 orang. Namun pada hari Selasa Pahing, Jumat Legi, ataupun bulan Suro bisa berjumlah hingga belasan orang. Masingmasing membawa wadah kecil berisi dupa yang sudah dibakar oleh petugas lain sebelumnya.
Setelah berhenti dan berdoa beberapa menit di depan tangga, ketua juru kunci membuka pintu. Kunci dan gembok pintu utama memang hanya bisa disimpan atau digunakan oleh ketua juru kunci. Sering pula
kunci itu dipasrahkan atau diserahkan pada juru kunci atau cantrik lain, jika sang ketua kebetulan tidak bisa bertugas atau ada halangan.
Setelah pintu dibuka rombongan cantrik dan ketua juru kunci berjalan masuk. Para cantrik akan menunggu dan mengawasi di sekitar pintu masuk. Baik pintu dari samping atau pun pintu utama ruangan makam. Sementara ketua juru kunci akan masuk ke dalam ruangan pusara makam.
Ia masuk melalui pintu samping di dalam ruangan. Di ruangan yang masih tertutup kain kelambu itu, ketua juru kunci kabarnya melakukan semedi terakhirnya dulu.
“Sekitar pukul 22.00 malam biasanya kelambu mulai dibuka oleh ketua juru kunci,” paparnya.
Selama menunggu kelambu akan dibuka itulah, pengunjung boleh memasuki ruangan utama makam. Sebelumnya mereka mencuci kaki dari air gentong di samping ruangan. Air dari gentong ini dipercaya bisa membuat mereka awet muda dan selalu banyak rejeki. Mereka boleh duduk di depan kelambu. Posisi
duduk mirip orang akan melakukan ibadah sholat. Ditata baris per baris per sof-nya. Syarat bagi pengunjung yang akan masuk tidak boleh membawa kamera, kemenyan, dupa, dan pesawat HP harus dimatikan. “Mereka hanya boleh membawa bunga serta berdoa di depan kelambu penutup pusara makam,” tuturnya.

Jadi selama kelambu belum dibuka, mereka hanya duduk-duduk dan berdoa. Mereka berdoa sesuai keyakinan masing-masing. Sering kali terdengar pengunjung muslim melantunkan ayat-ayat Al-Quran.
Sementara pengunjung lain menimpali dengan menggumam doa dalam bahasa dan keyakinannya sendiri-sendiri. Cantrik yang lain mengawasi ketertiban pengunjung dari depan pintu-pintu ruangan. Setelah kelambu resmi dibuka, maka pengunjung masuk ke ruangan depan pusara makam. Mereka dengan tertib maju sesuai barisannya masing-masing. Di ruangan itulah mereka kembali berdoa untuk yang terakhir kalinya dalam ritual ziarah sekaligus ngalap berkahnya. Setelah berdoa sekitar 5 hingga 15 menit mereka menaburkan bunga di pusara makam.
Setelah selesai tabur bunga, masing-masing pengunjung akan diberi semacam bingkisan oleh sang ketua juru kunci. Bentuk bingkisan itu adalah kain merah berhuruf cina yang berisikan dupa dan beberapa ubo rampe kecil. Bingkisan itu secara resmi hanyalah kenang-kenangan dari pengelola makam. Namun banyak yang mengartikan bahwa bingkisan itulah letaknya tuah gaib yang berguna bagi pengunjung.
“Bagi yang percaya dengan tuah gaib itu, mereka akan menyimpan bingkisan itu dalam rumahnya masing-masing, atau menyimpan di ruangan yang mereka anggap akan memberikan tuah berkahnya,”lanjut Sukiman.
Biasanya banyak yang menyimpan dalam toko, kantor, mobil, gudang, rumah, atau bahkan di dalam tas sehari-hari mereka. Mereka percaya bahwa bingkisan dari si juru kunci sudah mengandung tuah gaib yang sangat ampuh. Sehingga bisa difungsikan untuk meraih keberuntungan seperti yang mereka harapkan saat berziarah dan berdoa ngalap berkah di makam gunung Kawi. Paling banyak memang difungsikan untuk berkah gaib kekayaan atau rejeki.
Jadi bisanya sering mereka taruh dalam toko, kantor atau ruangan usaha mereka masing-masing. Setelah mereka menerima bingkisan itu, mereka dimohon segera berjalan keluar lewat pintu samping yang
telah disediakan. Di ruangan itu memang ada petunjuk papan nama untuk jalur keluar.
“Setelah mereka keluar, posisi mereka akan segera digantikan oleh barisan pengunjung yang mengantri di belakangnya,” urai lelaki yang lahir dan sejak kecil sudah hidup di dalam komplek makam gunung Kawi ini hingga sekarang.
Pengunjung di gunung Kawi tidak hanya percaya dengan tuah gaib dari kedua pusara makam keramat di ruangan utama. Mereka juga berusaha mencari tuah gaib berkah lain dari komplek makam. Diantaranya ada sebuah pohon Dewandaru yang sangat dikenal tuah gaibnya. Yang unik dari pohon ini adalah, baik daun dan buahnya dipercaya mempunyai tuah gaib yang sangat ampuh. Tuah gaib itu bisa digunakan secara langsung dalam ajian penglaris usaha.
“Baik daun atau buahnya bisa langsung digunakan untuk menyedot rejeki atau menglariskan usaha bagi siapapun yang memiliki,” terang Gus Ramli (50), seorang spiritualis asal Sumenep, Madura, Jawa Timur pada Misteri. Pria yang sering berkunjung ke gunung Kawi ini mengatakan bahwa tuah dari daun atau buah Dewandaru itu memang sudah banyak yang membuktikan. Bahkan tuah itu tidak perlu memakai ritual, doa, ataupun syarat-syarat khusus lainnya.

Pengunjung hanya cukup memiliki buah atau daun  Dewandaru tersebut. Dan menyimpannya dimanapun mereka suka. Biasanya mereka memang banyak menyimpan di dalam dompet ataupun tempat kasir usaha mereka. Sering pula orang menyimpannya dengan membungkus daun itu dengan uang kertas, setelah itu uang kertas disimpan dalam dompet atau tempat usaha.

Meskipun demikian ada syarat unik agar daun atau buah dari pohon dewandaru tersebut mengandung tuah gaib. Yaitu daun atau buah tidak boleh dipetik, atau dengan sengaja menggoyang-goyang pohon agar daun atau buah berguguran di bawah. Siapa pun yang menginginkan tuah daun atau buah Dewandaru harus menunggu agar daun atau buah itu jatuh sendiri.
“Saat jatuh sendiri atau jatuh secara alamiah itulah mereka baru boleh mengambilnya untuk tuah atau ajimat gaib penglarisan,” ujar lelaki yang dikenal mempunyai ratusan santri di Madura dan Malang ini.
Mengapa harus menunggu daun atau buah jatuh sendiri?
Menurut Gus Ramli, saat daun atau buah Dewandaru jatuh sendiri tersebut sebenarnya bukan benar-benar jatuh sendiri, atau jatuh karena keinginan alamiah pohon.
Melainkan dipercaya memang merupakan keinginan dari roh gaib dari tokoh makam keramat di Gunung Kawi. Jadi saat daun dan buah jatuh sendiri, daun itulah yang sebenarnya sengaja dirontokkan atau dilemparkan oleh roh gaib dari makam keramat yang diziarahi. Tidak setiap waktu daun dan buah bisa gugur atau rontok sendiri.

Hanya pada waktuwaktu tertentu saja bisa rontok. Hanya orang-orang atau pengunjung yang beruntung saja bisa mendapatkannya. Namun bagi yang tekun menanti kejatuhan atau rontoknya daun bisa pula mendapatkannya. Tak heran setiap musim berziarah tiba, selalu banyak kerumunan pengunjung yang duduk, dan berdoa mengelilingi pohon Dewandaru itu.
“Mereka berharap agar bisa menemukan keberuntungan melihat daun jatuh dan segera mengambilnya. Bahkan sukur-sukur daun atau buah itu jatuh tepat mengenai kepala mereka,” ujarnya.
Daun atau buah yang jatuh tepat mengenai kepala pengunjung itu, biasanya dianggap berkah yang paling ampuh bagi pemilik kepala.
Keampuhan tuah gaibnya dianggap berlipat-lipat dibanding dengan menunggu daun atau buah jatuh di atas tanah untuk kemudian baru mengambilnya. Bahkan daun dan buah yang jatuh tepat mengenai kepala tak perlu diambil atau disimpan, namun dipercaya tuah gaibnya sudah merasuk dalam diri orang yang beruntung dijatuhinya.

Bisa diumpamakan, atau perbandingan keampuhan gaib antara yang jatuh ke tanah dan yang jatuh menimpa kepala bersangkutan. Jika daun atau buah yang jatuh sendiri ke tanah dan diambil bisa mendatangkan penglarisan puluhan juta atau ratusan juta dalam waktu beberapa minggu atau bulan. Namun jika buah atau daun itu menimpa kepala, maka hanya dalam hitungan hari bahkan beberapa jam saja, tuah gaib rejeki itu sudah efektif berjalan.

“Pernah ada pengunjung yang kejatuhan buah saat baru datang di lokasi, padahal ia sendiri belum berniat untuk melakukan ritual ngalap berkah. Eh tiga jam setelah pulang ke rumah, tiba-tiba ia mendapat keberuntungan sebesar milyaran rupiah begitu saja. Orang tersebut mendadak saja mendapat tawaran dana gratis sebesar Rp 3 milyar dari orang yang belum ia kenal sebelumnya,” ceritanya menceritakan pengalaman seorang pengunjung yang sangat dikenalnya.

Yang juga sangat aneh, pohon Dewandaru yang dianggap bertuah itu hanya ada satu jenisnya. Yaitu yang berada di luar, atau tepat di samping ruangan utama makam. Atau kalau dari tangga utama masuk kompleks langsung menyambut pengunjung di teras atau halaman paling atas. Banyak pengunjung yang biasanya langsung mencari keberuntungan di pohon ini sebelum berdoa di pusara makam.
Pohon itu konon dari dulu hingga sekarang tingginya sekitar 3 hingga 4 meteran. Bahkan sebelum lokasi makam dipugar, keberadaan pohon itu sudah ada di antara pohon lain, sehingga dianggap paling tua. Saat ditemukan memang hanya ada satu pohon tersebut. Kini batangnya seperti merumpun dan menyatu. Sedangkan daunnya tidak begitu rimbun, namun juga tidak begitu jarang. Agar tidak sering diganggu pengunjung, terutama anak kecil, pohon diberi pagar persegi panjang yang tingginya melebihi postur orang dewasa.
Bahkan di pagar pohon itu diberi larangan bagi pengunjung untuk tidak memetik atau menggoyang pohon. Tak hanya larangan memetik daun, larangan lain seperti menyalakan dupa, memotret, membuat gaduh juga dilarang keras. Dulu sebelum diberi pagar memang banyak pengunjung yang sengaja memetik dan menggoyang-goyang agar bisa mengambil daun yang gugur. Namun mereka kecele, saat daun yang mereka dapatkan ternyata tidak bertuah sama sekali.
Kini setiap harinya lantai atau tanah di bawah pohon itu terlihat selalu bersih.
“Mungkin karena semua pengunjung yang datang selalu memungut daun atau buah yang jatuh,” timpal lelaki yang juga kerap dipanggil om Lili ini.
Padahal di halaman lain, atau di teras yang sama, masih ada beberapa pohon Dewandaru yang lain. Hanya saja pohonpohon lain itu tidak dianggap mempunyai tuah, meskipun ukurannya jauh lebih besar. Ini karena pohon-pohon itu dulunya masih kecil dan tumbuh normal menjadi pohon besar-besar hingga sekarang. Jadi tidak dianggap istimewa oleh pengunjung. “Sedangkan pohon Dewandaru yang bertuah itu dari sejak awal ditemukan hingga sekarang kondisi dan ukuran fisiknya sudah seperti itu, tidak lebih dan tidak kurang,” katanya lagi.

Ada juga beberapa pohon yang ukurannya jauh lebih kecil daripada yang di dalam pagar itu, namun juga tidak dianggap istimewa. Karena tidak dianggap istimewa maka pohon yang lain sebagian besar tidak diberi pagar karena tidak pernah diganggu pengunjung. Lantas mengapa pohon Dewandaru yang diberi pagar itu bisa istimewa dan mempunyai kekuatan gaib untuk penglaris atau rejeki? Dari cerita legenda yang dipercaya masyarakat gunung Kawi dan sekitarnya, pohon itu dulunya bukanlah pohon sembarangan. Pohon itu dulu merupakan sebuah tongkat yang sengaja ditancapkan oleh tokoh Kyai Zakaria. Tongkat itu ia tancapkan untuk menandai wilayah gunung Kawi sebagai daerah aman atau bebas dari gangguan siapapun. Baik dari gangguan orang-orang jahat ataupun makluk-makluk halus jahat yang sering mengganggu masyarakat gunung Kawi di kala itu. Dari cerita itulah, hingga sekarang orang hanya percaya pada satu pohon Dewandaru itu saja. Sedangkan pohon lain dianggap merupakan bibit atau tumbuh baru. Karena yang dulu menancapkan tongkat adalah tokoh sakti dari bangsawan Mataram, maka sampai kini pohon itu juga dianggap mempunyai tuah sakti. Dan nyatanya setiap hari pengunjung selalu memburu tuah saktinya untuk penglarisan dan rejeki, baik dari daun atau buahnya yang berguguran.

Di sekitar makam Gunung Kawi memang dikenal sebagai gudangnya pusaka-pusaka gaib, serta makluk-makluk halus yang bersemayan di pohon-pohon atau di sudutsudut halaman makam. Makluk-makluk halus itu, kabarnya bisa diajak kerja sama untuk lebih memperkuat ilmu kesaktian.
Bahkan bagi yang bisa melobinya, bisa mengajak kerja sama untuk memburu pusaka-pusaka gaib di lokasi. Pusakapusaka yang paling banyak dicari adalah yang berwujud keris dan tombak.
Akan halnya cerita tentang surganya tuyul pesugihan di gunung Kawi sendiri memang dibantah oleh semua pengurus atau juru kunci makam. Namun sebenarnya cerita itu memang bukan mitos belaka.
Hanya saja pesugihan tuyul seperti yang dipercaya orang-orang letaknya bukanlah di dalam kompleks makam keramat gunung Kawi.
“Jika ingin mencari pesugihan dalam bentuk apa saja, termasuk tuyul bisa mencari di perkampungan sekitar 5 kilometer di atas komplek makam keramat gunung Kawi,” tutur Gus Ramli lagi.
Beberapa perkampungan yang masih satu kecamatan di sekitar makam gunung Kawi memang menawarkan layanan aneka pesugihan. Pesugihan itu tidak berpusat di makam keramat, punden, pohon, ataupun sendang keramat. Namun hanya dikelola oleh beberapa warga yang menjadikan rumahnya sendiri sebagai tempat menjual pesugihan.

“Mulai pesugihan babi ngepet, tuyul, kera, buto ijo, dan lain-lain banyak disediakan oleh orang-orang di kampung atas komplek resmi gunung Kawi,” jelasnya.
Sehingga seringkali banyak orang yang tidak pengalaman, atau datang dari wilayah jauh tersesat masuk ke perkampungan pesugihan tersebut. Atau banyak juga yang memang dengan sengaja hendak mencari pesugihan itu. Masing-masing rumah yang menyediakan jasa pesugihan tidak memasang tanda khusus di pintu rumahnya.
“Namun banyak broker atau pemandu yang berkeliaran di jalan untuk menyambut pendatang yang terlihat ingin mencari pesugihan itu,” jelasnya.
Atau bagi pengunjung yang sudah terbiasa atau membawa pemandu sendiri dari rumah bisa langsung mendatangi rumah yang menyediakan pesugihan itu.
Jasa yang menawarkan pesugihan ini mulai marak sejak makam gunung Kawi dikenal sebagai tempat ngalap berkah. Mereka menjaring pengunjung yang benar-benar ingin kaya secara cepat lewat kerja pesugihan. Tentu saja pesugihan yang ditawarkan memang bersifat cepat, instant namun memakan tumbal nyawa.
“Bahkan saya pernah mengantar rekan yang dulu ingin mengadu nasib lewat pesugihan ala tumbal nyawa itu,” ceritanya mengenang.
Saat ia mengantar teman itu, ada sebuah rumah yang dituju berdasar referensi dari teman yang lain. Saat mengetuk pintu rumah, akan ada sahutan dari dalam berupa pertanyaan lantang. Bunyinya kira-kira, “Apakah anda kafir atau muslim?”

Jika tamu yang mengetuk menjawab kafir, tuan rumah biasanya akan langsung mempersilakan tamu untuk masuk. Namun jika dijawab muslim, tuan rumah akan segera menyuruh tamunya pulang. Jadi ada kepercayaan, bahwa ilmu pesugihan itu hanya berlaku untuk orang-orang selain muslim.

Dengan kata lain ilmu pesugihan akan langsung menguap dengan sendirinya jika bersentuhan atau bersinggungan dengan ritual agama muslim. Misalnya sholat, mengaji, puasa muslim, ucapan syahadat, dan lain-lain.
Sebenarnya apapun agamanya, termasuk jika kebetulan tamu itu seorang muslim, namun jika dijawab kafir, tamu tetap akan dipersilakan masuk. Setelah masuk, tamu akan ditutup kedua matanya oleh pemilik rumah. Kemudian tamu akan dibawa ke sebuah kolam. Setelah matanya dibuka, tamu akan diberi sebuah parang atau pedang yang sangat tajam.
Tamu akan ditunjukkan bahwa di kolam itu ada seorang anak kecil. Anak kecil itu biasanya merupakan perwujudan dari kerabat, family, atau anak dari tamu yang bersangkutan. Jadi wajah anak kecil itu memang sama dengan kerabat atau anak di rumahnya yang tidak diajak. Selanjutnya tamu akan disuruh tuan rumah memenggal atau menebas kepala anak kecil yang berada di kolam di hadapannya.
“Jika si tamu mau menebas kepala anak itu, berarti ia sudah menyatakan setuju dengan kontrak perjanjian pesugihan nantinya.

Dengan kata lain jika tuah pesugihan nanti sudah berjalan, maka sewaktu-waktu nyawa anaknya diambil oleh gaib pesugihan, maka si pemilik harus rela, alias tidak bisa menghindar lagi,” ulasnya.
Jika ia setuju, maka ritual pesugihan segera dilakukan. Mulai pesugihan babi ngepet, tuyul, kera, atau yang ditawarkan oleh pemilik rumah. Namun jika saat disuruh memenggal kepala si bocah dalam kolam tamu akan menolak, maka kontrak dianggap batal. Dan si tamu disuruh pulang oleh pemilik rumah.
Saat keluar pun matanya juga ditutup lagi oleh pemilik hingga halaman rumah baru boleh dibuka. Namun jika ia setuju dengan kontrak pesugihan, maka matanya tak perlu ditutup lagi saat keluar rumah untuk pulang. Berdasar pengalaman beberapa pelaku pesugihan banyak perkampungan di atas makam gunung Kawi yang masih mempraktekkan bisnis pesugihan itu.
“Malah mekanisme serta kontrak perjanjian gaibnya juga lain-lain antara rumah yang satu dengan rumah yang lain.

Namun intinya, bagi siapapun, dan apapun bentuk pesugihannya tetap akan meminta tumbal nyawa sebagai syarat wajib ilmu pesugihan itu. Jadi bagi pengunjung harap berhati-hati, jangan sampai tersesat masuk ke perkampungan itu,” ujarnya sembari memberikan nasehat.
Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Jumat, 20 Juni 2014

Kisah Mistis : Pesugihan Jatah Umur Eyang Durgala Pati

Sumber / penulis : (oleh Herry Boediyanto) 
Sekitar setahun kebelakang sudah pernah kami tampilkan ritual pesugihan kontrak umur versi keramat Kraton Gunung Mayit  Eyang Ki Jaga Sakti yang cukup menegangkan dan mendebarkan, selain tempat ritualnya itu mengerikan medannya pun sangat sulit untuk ditempuh harus melalui titian anak tangga yang berjumlah 360 buah dan untuk mencapai lokasi tempat keramat tersebut baiknya pelaku mesti harus memegang akar- akar pohon yang merambat kebawah dan jika terlepas ataupun terpeleset berarti nyawalah sebagai tebusannya.
Tak kalah menarik dengan ritual di keramat Gunung Paseban  baik dari tata cara maupun perjanjian sangatlah jauh berbeda.

Sebaiknya kita selaku makhluk tuhan yang paling sempurna mesti menjauhi acara- acara ritual seperti itu dianggapnya musyrik namun jika dalam keadaan yang sudah sangat terjapit biasanya manusia suka nekad tapi hendaknya mesti diperhitungkan terlebih dahulu untuk kedepannya sebab ILMU PELET WANITA ritualnya selain di puncak bukit jauh pula dengan rumah- rumah penduduk serta melewati beberapa kilometer hutan belantara sangatlah berbahaya jika lari sudah pasti akan masuk jurang  nyawa sebagai taruhannya.

Untuk menjaga agar tidak terjadi seperti itu mesti dibarengi oleh orang yang lebih berpengalaman khususnya orang pintar agar prosesi itu cepat selesai.

Dari sekian banyak tempat- tempat keramat yang sering dipakai untuk mengais rezeki dengan jalur instant kebanyakan para pelaku ritual sangat menggandrungi jalur pertikahan dengan peri cantik dan jalur pesugihan jual musuh, namun mereka ini kurang memahami tentang tata cara ritual tersebut yang akhirnya banyak mendapat kegagalan

Di Gunung Paseban yang masih sangat jarang dilakoni oleh pelaku ritual adalah ritual jatah umur dengan taruhan nyawa si pelaku itu sendiri sebagai jaminannya ada yang gagal ada pula yang sukses seperti apa tata cara ritual tersebut silahkan simak terus kisahnya dibawah ini

Sebelum ritual itu dilakasanakan pertama kali yang mesti ditemui adalah sang juru kunci yang menjembatani antara keinginan manusia dengan alam kasat mata lalu minta Bantu pada Salah satu Sesepuh yang benar- benar siap membantu ritual itu berlangsung hingga selesai  sebab tugas juru kunci hanya sebagai perantara saja lantas untuk ritual selanjutnya dijalani oleh si pelaku itu sendiri sementara juru kunci meninggalkan si pelaku itu sendirian berada dikeramat.

Untuk ritual selanjutnya barulah tugas sesepuh itu sendiri yang mendampingi si pelaku agar keberaniannya makin bertambah serta keyakinananya penuh.

Selain menemani pelaku, tugas sesepuh ini cukup berat jika dibanding dengan juru kunci sebab segala sesuatunya bisa di deteksi oleh sesepuh mulai pemanggilan makhluk ghaib hingga transaksi itu selesai namun itu pun dalam batas- batas jarak tertentu

Yang perlu diperhatikan oleh si pelaku itu sendiri jika memakai jasa sesepuh mesti diperhatikan pula kebutuhannya dengan kata lain membayar jasa atas pekerjaaannya itu selama diperlukan oleh pelaku sebab mereka pun sama perlu biaya untuk menafkahi sanak dan istrinya dirumah selama berada di keramat untuk membantu acara ritual tesebut berlangsung.

Ritual pesugihan Jatah Umur tidak memakan wadal orang lain melainkan dirinya sendiri yang jadi tumbal taruhannya dan ini sudah dilakukan oleh puluhan orang pelaku hasilnya ada yang sukses adapula yang mendapat kegagalan.

Sukses dan gagal  itu tergantung kesepakatan Eyang Durgala Pati sebagai tampuk kekuasaan Raja Dedemit dikeramat tersebut dan selalu memberi kepastian pada si pelaku itu sendiri jika sudah betul- betul nekad.

Seperti apa kepastian itu ….? Ya … jika perjanjian itu sudah disepakati bersama berarti tinggal menikmati hasilnya

Biasanya ritual dikeramat ini tidak ada godaan yang membuat takut bagi para pelaku ritual itu sendiri sebab keputusan itu baik melalui komunikasi langsung ataupun lewat suara tanpa wujud datangnya entah siang entah pula malam hari seperti yang dialami oleh para pelaku – pelaku lainya

Faktor kegagalan itu  adanya pada diri kita sendiri yakni tidak sanggup bernegosiasi dengan si pemberi kekayaan itu sendiri lantaran takut.

Eyang Durgala Pati bisa diajak kolaborasi dengan catatan  mesti ada wadalnya sebagai imbalan kekayaan tersebut. Caranya bagaimana ….? Si pelaku itu sendiri bisa mengatakan langsung padanya tentang umurnya yang dia jaminkan itu sebagai pengikutnya kelak dikemudian hari, nah disinilah kepintaran dan keberanian si pelaku itu sendiri untuk bernegosiasi jika kita merasa keberatan dengan perjanjian yang sudah diberikan oleh Eyang Durgala Pati hendaknya di utarakan langsung untuk memberikan solusinya contohnya dengan memberikan sapi, atau kambing pokoknya  hewan berkaki empat sebagai penganti si pelaku itu sendiri yang dijadikan tumbalnya sebelum nyawa si pelaku itu sendiri akan diambil oleh kerajaan ghaib Eyang Durgala Pati.

Ritual ditempat keramat seperti ini mesti dengan orang yang lebih tahu dan faham tentang tata caranya jangan asal-asalan contohnya seperti Abah Yaya sudah banyak membantu pasien untuk melakukan ritual di keramat.

Siapa sebenarnya sosok abah yaya ini, dia seorang sesepuh yang sering menemani pelaku ketika ritual itu berlangsung hingga selesai mungkin 1- 3 hari dia selalu setia menemani pasien, sesepuh ini tidak pernah meninggalkan pelaku sendirian yang jadi persoalannya adalah tempat lokasi keramat Gunung Paseban ini sangat jauh sekali dari rumah juru kunci dan berada di puncak bukit.

Sementara tugas juru kunci hanya mengantarkan pelaku untuk melaksanakan ritual dan setelah menitipkan pada penghuni keramat dengan melalui Ijab Qhobul  setelah selesai pasti juru kunci itu pulang, yang dikhawatirkan jika ada sesuatu yang meninpa pada pasien itu sendiri bagaimana….? Disinilah tugas abah yaya yang selalu menemani dan membantu pasien itu ngelakoni ritual berlangsung.

Jadi harus dijaga keselamatannya pada pasien itu sendiri makanya kami selaku penulis selalu minta jasanya sesepuh tersebut jika ada seseorang yang hendak melakukan ritual ghaib seperti ini.

Tugas abah yaya bukan sebagai juru kunci melainkan sebagai sesepuh yang mendampingi si pelaku juga membantu serta mendorong agar si makhluk ghaib itu cepat muncul dan sekaligus menemani si pelaku agar tidak lari, sangatlah berbahaya sekali jika tidak ditemani yang ditakutkan tak lain adalah aura mistis yang sangat kental sehingga bisa membuat si pelaku itu sendiri bisa tersedot atau tertarik ke alam ghaib.

Dilokasi keramat itu terdapat jurang yang sangat dalam yang ditakutkan jika si pelaku kaget atau takut terus lari dan terjerembab ke dalam jurang itu sudah pasti mati

Jurang yang sangat dalam itu ternyata dipakai untuk ritual pembuangan hewan yang sudah disembelih untuk ditumbalkan pada makhuk halus  penghuni keramat Gunung Paseban  lalu dibuang ke jurang tersebut.

Konon menurut cerita juru kunci bangkai hewan itu yang sudah dibuang esoknya suka menghilang entah siapa yang mengambilnya yang tersisa Cuma tinggal tulang belulang saja.

Sudah beberapa pelaku yang membuktikan ritual dikeramat ini salah satunya sebut saja namanya haryati dari kabupaten garut jawabarat, ketika berada dikeramat haryati memang sangat khusuk sekali lantaran niatnya betul- betul ingin kaya raya  hidupnya sudah sekian lama selalu menderita dengan kesusahan dan kesengsaraan yang tiada akhir makanya dia nekad berada di keramat ini

Semenjak ditinggal pergi oleh suaminya haryati jadi tulang punggung keluarganya untuk menafkahi kedua orang tuanya serta kakak dan adik- adiknya akhirnya dia nekad melakoni ritual pesugihan, yang penting kehidupan kedepannya tidak susah seperti sekarang ini. Dengan berbekal keberanian akhirnya haryati pun ngelakoni ritual nekad itu dengan harapan bisa sukses seperti orang lainnya

Dimalam pertama ritual haryati memang sudah mendengar bisikan ghaib dan sudah diperlihatkan kejadian- kejadian yang musyikil dimana ketika dirinya sedang ritual tiba- tiba suasana jadi berubah dia melihat sebuah tumpukan kardus serta beberapa guci perhiasan yang terbungkus dalam kantong plastik namun penglihatannya itu cuma sebentar saja lalu menghilang lagi

Esoknya haryati masih bertahan berada dikeramat hatinya merasa belum puas lantaran niatnya ingin berkomunikasi langsung dengan Eyang Ki Durgala Pati tidak terlaksana. Dihari kedua pun dia cuma melihat kejadian yang sama yakni penampakan sebuah kardus yang sudah berubah menjadi dus besar, haryati bertambah kuat keinginannya untuk bertemu dengan penguasa tempat keramat tersebut yakni Eyang Ki Durgala Pati. Hingga pagi hari pun tiba dia tidak pernah bertemu langsung dengan Makhluk Dedemit tersebut

Ke esokan siangnya secara tidak sengaja haryati rebahan di sebuah cungkup yang berada di sekitar tempat itu hingga dirinya tertidur pulas namun ketika dirinya terjaga tiba- tiba sekeliling cungkup itu jadi gelap gulita serta dipenuhi dengan kabut. Tiba- tiba dari sudut ruangan tampak  samar- samar bayangan hitam  namun wajahnya tidak jelas yang terlihat hanyalah janggutnya saja yang sudah memutih.

Bibir haryati kaku tidak bisa berkata apa- apa gugup dan takut bercampur jadi satu

“ Haryati…. Kardus itu bakal jadi milikmu tapi ingat umurmu cuma sebentar apa kau sanggup ….? Pinta Eyang Ki Durgala Pati .”

“ Sa… sa….sa.. sangup  Eyang  ….! Jawabnya singkat.”

“ Sekarang kau Pulang haryati, kau tunggu saja dirumah nanti pengawalku akan mengantar permintaanmu mengerti ! ucapnya dengan tegas.”

“ Ba…. Ba …. Ba… baik Eyang.”

Ternyata haryati tidak banyak bicara lantaran rasa takut dan kagetnya itu yang membuat bibirnya jadi kelu ! masih dalam keadaan kaget yang luar biasa dia menyaksikan secara perlahan kabut itu menipis lalu hilang seketika.

Siang itu juga haryati pulang meninggalkan tempat keramat lantaran ritualnya sudah selesai serta merasa puas atas ucapan Eyang Ki Durgala Pati.

Setelah sampai rumahnya,malam harinya haryati pun ritual kembali dikamar pribadinya ternyata benar ucapan Eyang Durgala Pati itu terbukti, dimana tiba- tiba di depan rumahnya muncul sebuah mobil berwarna merah penumpngnya langsung keluar dan menurunkan isi muatanya. Haryati langsung keluar dari kamarnya dia merasa kaget dan mustahil di depan rumahnya tiba- tiba mendengar suara deru mobil lantaran untuk melaju ke pondoknya sangat tidak mungkin sekali sebab tidak ada jalan masuk !.

Begitu pintu dibuka tamu tak diundang itu langsung menyerahkan sebuah dus berukuran besar katanya kalau kiriman itu adalah titipan dari Eyang  Prabu Ki durgala Pati dia pun merasa kaget sebab dus besar itu pernah dia lihat ketika berada dikeramat.

Wajah si pengantar kiriman itu semuanya agak aneh tubuhnya dipenuhi dengan bulu tak pikir panjang dia pun langsung menerima kiriman tersebut lalu dipindahkan ke kamar pribadinya, anehnya tak seorangpun keluarganya yang tahu atas kedatangan makhluk ghaib tersebut mungkin karena pengaruh ilmu sirep yang akibatnya semua penghuni rumah haryati pada tertidur pulas, ritual itu pun dilanjutkan kembali.

Hari menjelang pagi sekitar pukul 02.00 tiba- tiba Eyang durgala Pati Muncul dihadapannya seraya berkata “ silahkan kau pakai kiriman dari Eyang haryati ….”

Hanya itu saja yang di ucakannya sebab makhluk ghaib tersebut segera menghilang dari penglihatanya

Dengan penuh rasa berdebar tiba- tiba kardus itu dibuka, disamping ujungnya saja lalu dilipat lagi, apa yang dilihatnya …? Ternyata benar gepokan uang yang banyak sekali hatinya berbunga- bunga setelah mendapat uang hasil ritual di keramat Gunung Paseban itu. Siang itu uang kirimannya diambil  satu gepok lalu  dipergunakan untuk keperluan rumah tangganya sisanya dipakai untuk membayar utang –piutangnya lantaran selama ini haryati hidup menumpang pada kedua orang tuanya, niatnya sih baik ingin membahagiakan sanak keluarganya.

Sepulang dari belanja tiba-tiba kepalanya pusing, langsung meminum obat sambil bersandar dikursi tak terasa dia pun tertidur mungkin karena kecapean setelah belanja hampir seharian dikota.

Haryati tergaja setelah satu jam lamanya beristirahat dikursi seraya langsung pergi kebelakang maksudnya hendak cuci muka namun tiba- tiba dia terjatuh di wc.

Sudah beberapa hari dia terbaring lemas di rumah sakit sebelum menginjak satu bulan lamanya akhirnya haryati pun meninggal dunia.

Dari pihak rumah sakit pun mengatakan kalau haryati terlalu kecapean tidak ada penyebab lain yang ia derita penyakit selama ini

Yang jadi pertanyaan bagaimana sisa uang yang masih tersisa cukup banyak itu setelah pemiliknya mati apakah masih ada atau ditarik kembali oleh  Raja Dedemit Ki Durgala Pati ? lantaran perjanjian sudah disepakati kalau uang itu milik haryati jadi tidak mungkin uang akan raib begitu saja. Yang jelas uang milik haryati di pergunakan oleh sanak saudaranya dan itu terlihat dari seluruh keluarganya yang hidup dalam kemewahan

Jadi dalam kisah nyata ini menjelaskan bahwa haryati berani ngelakoni ritual seperti itu lantaran sangat terhimpitnya ekonomi. Setelah dia sukses  ternyata uang kirimanya itu dipergunakan oleh sanak familinya sendiri sementara dia sendiri mati lantaran perjajian.

Dari kejadian tersebut diatas itu akibat kelalaian haryati sendiri ketika berhadapan langsung  dengan Eyang Durgala Pati sewaktu ngelakoni ritual dikeramat Gunung Paseban dimana dirinya tidak sanggup berkata- kata lantaran saking takut dan kaget yang secara tiba- tiba saja antara sadaar dan tidak muncul penampakan Eyang Ki Durgala Pati lantaran dirinya memaksa ingin bertemu langsung dengannya pada siang hari di dalam cungkup, jika haryati tidak gugup dan berani mengatakan keberatannya pada Eyang Durgala Pati agar tumbal nyawa dirinya itu bisa diganti dengan hewan berkaki empat mungkin sampai sekarang dia masih hidup.
Jika pelaku hendak ngelakoni ritual seperti ini hendaknya segala sesuatu mesti di fikirkan terlebih dahulu, siapkan mentalnya dan jika sudah mantab baru bisa dilaksanakan ritualnya mesti yakin atas lelakunya sendiri.
Itulah sekelumit kisah nyata tentang ritual Jatah Umur versi  Eyang Durgala Pati Gunung Paseban seluruh nama yang tercantum pada kisah ini sudah kami samarkan sekian dan terima kasih.
Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Selasa, 17 Juni 2014

Kisah Mistis : Buto Ijo Merenggut Nyawa Adikku Sebagai Tumbal

Sumber / Penulis : (Oleh: Tibiko P Zabar)
Darman hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat untuk menghilangkan pepat yang menghimpit dadanya. Betapa tidak, belum genap enam bulan ia merantau ke Jakarta, seorang adiknya yang bekerja di sebuah toko hasil bumi terbesar yang ada di kotanya meninggal dunia tanpa sebab yang jelas.
Darman tak mungkin merutuki nasib keluarganya yang seolah tak lekang dirundung kemiskinan, maklum, sang ibu meninggal dunia beberapa bulan setelah melahirkan Darto, si bungsu, dan sang ayah pun menyusul setahun kemudian. Sejak itu, kehidupan keluarga kecil itu menjadi tanggungjawab Darman selaku anak lelaki tertua. Walau masih berusia 12 tahun, tetapi, Darman tak pernah mengeluh apalagi menyerah. Sejak pagi, ia menjajakan koran di seputar terminal, sekiar pukul 10, ia kembali ke rumahnya dengan menenteng tiga bungkus nasi rames untuk ketiga adiknya yang masih kecil-kecil itu. 
Setelah makan bersama, ia pun kembali menjajakan korannya sampai menjelang tengah hari. Begitulah yang dilakukan oleh Darman pada setiap harinya. Menjelang Maghrib, ia selalu mengajak ketiga adiknya untuk mengaji di surau Ustadz Samsuri, lelaki paruh baya yang tak bosan-bosannya mengajarkan Darman dan ketioga adiknya mengaji, ditambah dengan membaca dan menulis. Oleh karena itu, walau tak pernah mendapatkan rapor sebagaimana anak-anak yang bersekolah pada umumnya, namun, Darman dan ketiga adiknya boleh dikata cukup menguasai beragam pelajaran yang diberikan di sekolah. Oleh karena itu, wajar, jika Darman dan ketiga adiknya menganggap Ustadz Samsuri sebagai ayah angkatnya …. Tenyatra tak hanya itu, diam-diam,. Apa yang dilakukan Darman selama ini menjadi pendorong bagi kedua adiknya, Tato dan Robin, untuk meniru jejak sang kakak. Tato dan Robin bertekad, setelah lancer mengaji, serta membaca dan menulis, keduanya akan bekerja di toko hasil bumi yang ada di kotanya, tujuannya satu, mereka bertiga akan menjadikan Darto sebagai orang yang berguna. Setelah mantap, maka, ketiganya langsung menghadap Ustadz Samsuri untuk mengutarakan segala keinginannya. 
Mulanya, Ustadz Samsuri melarang dengan alasan belum waktunya ketiganya berjuang sekeras itu, mengingat Undang-undang Tenaga Kerja juga melarang anak di bawa umur untuk bekerja. Tetapi apa daya, tekad ketiganya seolah tak terbendung lagi. Apalagi, Darman bersikeras untuk mengadu nasib di Jakarta. Singkat kata, Darman pun berangkat ke Jakarta, sedang Tato dan Robin bekerja di toko hasil bumi. Melihat kesantunan dan kepolosan keduanya, sontak, sang juragan pun memberikan perhatian lebih kepada mereka. Bisik-bisik di antara pekerja pun merebak. “Jangan-jangan bakal dijadikan tumbal berikutnya,” demikian kata Tarjo, salah seorang yang telah lumayan lama bekerja di tempat itu. “Hush ..,” sergah yang lain mengingatkan. “Lihat saja nanti,” sambung Tarjo jumawa. Lama-lama, bisik-bisik itupun sampai ke telinga Tato dan Robin. Hati keduanya langsung kecut. Untuk menenteramkan hati, Tato langsung menceritakan hal itu lewat SMS kepada sang kakak, Darman. Darman mengingatkan agar keduanya tak berburuk sangka apalagi kepada orang yang telah berbuat baik kepadanya. Jawaban sang kakak, membuat Tato dan Robin menjadi tenang. 
Mereka tak pernah lagi memikirkan bisik-bisik yang semakin ramai di kalangan pekerja. Hingga pada suatu malam, entah kenapa, malam itu, Robin merasa suasana kamar jadi teramat pengap. Ia langsung meminta izin kepada sang kakak untuk tidur di luar, tepatnya di gudang. Apalagi, sudah  tiga hari Tato mengidap batuk dan demam. Seiring malam yang semakin tua, kegelisahan yang melanda hati Robin pun kian menjadi-jadi. Ia pun langsung melantunkan ayat-ayat yang dihapalnya untuk menenangkan diri. Kemudian, di antara sadar dan tidak, mendadak ujung mata Robin melihat kelebat sesosok tubuh tinggi besar dengan pendar kehijauan melintas sambil menyisakan bau busuk yang teramat menyengat. “Astagfirullah,” hanya itulah yang terlontar dari mulut Robin. Dan ia langsung menyambungnya dengan kalimat; “Allah …Allah … Allah,” sampai tertidur. Sementara, di tempat yang lain, Tato yang tengah terlena tidak menyadari betapa maut tengah mengintainya. Dan benar, dalam hidungan detik, tubuh tinggi besar yang memendarkan cahaya kehijauan itu langsung menerkam batang lehernya. Tato tak sempat melawan … dan tak lama kemudian, ia pun meregang nyawa dengan wajah kesakitan yang teramat sangat. 
Bersamaan itu, disertai kesiur angin yang teramat keras, tubuh yang memendarkan cahaya kehijauan itu menghilang dengan meninggalkan bau busuk yang teramat menyengat. Paginya, semua menjadi heboh. Robin yang baru saja mendirikan salat Subuh dan berniat membangunkan Tato, langsung berteriak; “Tolong … tolong!” Semua pegawai yang menginap langsung saja menghambur ke arah Robin. Ketika melihat keadaan Tato yang sudah terbujur kaku dengan tubuh membiru, semuanya hanya bisa berkata; “Sabar… dan semoga almarhum mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya.” Tak berapa lama, tampak berjalan tergopoh-gopoh sang juragan. “Astagfirullah … kalau sakit, kenapa tidak bilang. Harusnya bilang dan langsung ke dokter,” demikian katanya dengan wajah penuh perhatian. Robin hanya tergugu. Ia langsung menelepon Darman untuk memberitahu dan meminta pertimbangan untuk pemakaman Tato. Akhirnya diputuskan, hari itu juga, Tato segera dimakamkan di TPU yang ada di desanya dan berdekatan dengan makam kedua orang tuanya. Dan semua biaya menjadi tanggung jawab sang juragan — selain itu, Robin mendapatkan cuti khusus selama satu minggu. 
Esoknya, ketika Darman datang, Robin hanya bisa memeluknya sambil menangis pilu dan meminta maaf karena tidak bisa menjaga almarhum kakaknya dengan baik. “Ikhlaskan … jika itu kehendak Allah. Tetapi jika karena sebab lain, aku bakal bela pati,”demikian desis Darman. Ustadz Samsuri yang mendengar  desisan itu langsung menggamit bahu Darman sambil berkata; “Ikhlaskan, biarkan Allah yang menghukumnya.” Darman hanya mengangguk dengan lesu. Hatinya langsung dingin ketika berhadapan, menatap sambil mendengarkan kata-kata sang Ustadz. Hanya sehari Darman tinggal di kampung halamannya, esoknya, sebelum pulang, ia berpesan kepada Robin; “Kalau engkau akan kembali bekerja di sana, kembalilah. Tapi ingat, begitu merasa sakit, kembalilah pulang ke rumah.”

“Baik Cak,” aku akan selalu mengingat pesanmu. Seperti biasa, setelah berziarah di makam ayah, ibu dan adiknya serta memohon doa restu dan menitipkan kedua adiknya kepada Ustadz samsuri, Darman pun berangkat menuju ke Jakarta. Sekali ini, di Terminas Bus antar kota, ia berjumpa dengan Tono, sahabatnya yang ketika kecil sama-sama menjajakan koran di terminal. Setelah saling menanyakan kabar masing-masing, akhirnya, Tono pun menanyakan kenapa Darman pulang ke kampung halamannya. Dengan singkat, Darman pun menceritakan musibah yang baru saja menimpanya. Tono pun berkata; “Kalau Robin sakit dan kamu pulang, jangan lupa temui aku di sini.” “Ingat itu,” imbuhnya lagi. Darman hanya mengangguk dan segera menaiki bus yang akan membawanya ke Jakarta. Kelelahan tubuh dan beratnya pikiran, membuat Darman langsung tertidur dengan lelap. Dan benar, enam bulan kemudian, ia mendapatkan SMS yang isinya Robin terserang batuk dan demam tinggi. Darman tak mau berlama-lama, ia segera menelepon dan meminta Robin untuk segera pulang ke rumahnya detik itu juga.

Robin menuruti segala pesan sang kakak, setelah mengutarakan niatnya kepada sang juragan dengan alasan rindu kepada Darto, si bungsu, akhirnya, ia pun mendapatkan izin. Pada saat yang sama, setelah menelepon Ustadz Samsuri dan sahabatnya, Tono, Darman pun langsung berangkat ke Surabaya. Singkat kata, ketika bertemu dengan Tono, lelaki yang sejak muda memang gemar menggeluti kebatinan Ilmu Pelet Wanita ini langsung menuliskan huruf Jawa di secarik kertas putih; Nga Tha Ba Ga Ma, Nyo, Yo Jo Dha Pa, La Wa Sa Ta Dha, Ko Ro Co No Ho. “Ilmu ini dikenal orang dengan sebutan Caraka Balik. Ilmu tua yang ampuh untuk memerangi segala gangguan iblis dan setan,” demikian turu Tono. “Caranya?” Potong Darman. “Tiap tengah malam, kelilingi rumahmu sambil membaca mantra di atas sebanyak tujuh kali sambil menggenggam garam. Setelah itu, taburkan garam yang tadi dibawa ke empat penujru rumah,” ungkap Tono dengan wajah serius.

Darman langsung pulang ke rumahnya disambut oleh Ustadz Samsuri. Ia langsung meminta izin untuk melakukan ritual, walau dilarang, tetapi, Darman nekat untuk melakukannya. Malam pertama, tak ada kejadian apapun. Begitu juga malam yang kedua - menjelang malam yang ketiga, godaan pun mulai datang. Seiisi rumah ditimpa olah rasa kantuk yang teramat sangat. Rasa kantuk itu kian menjadi-jadi menjelang tengah malam Darman yang sudah bertekad bela pati pun bertahan dengan melafalkan Caraka Balik berulangulang.

Tepat tengah malam, ia pun kembali berjalan mengelilingi rumahnya sambil membaca Cara Balik. Pada putaran yang kelima, ia melihat tubuh besar dengan pendar kehijauan dan bau busuk teramat sangat berusaha masuk ke halamannya. Sekali ini makhluk kegelapan tersebut kena batunya. Pagar gaib yang dibuat oleh Darman membuatnya berulangkali terpental … dan tepat pada putaran ketujuh, Darman yang sudah jengkel dan muak terhadap makhluk yang membunuh adiknya itu langsung menyambitkan garam yang digenggamnya ke arah makhluk berpendar kehijauan itu.

Disertai lolongan panjang, makhluk itu langsung menjauh dengan tubuh terbakar bak obor raksasa. Nun jauh disana, rumah juragan hasil bumi, mendadak terbakar tanpa sebab yang jelas. Api dengan cepat membakar seluruh bangunan tanpa menyisakan apapun. Sang juragan serta istrinya mati terpanggang …. Tak ada yang bisa menepis, sampai sekarang, Caraka Balik masih sering digunakan banyak orang sebagai penangkal ilmu hitam….
Ambil Hikmah dari setiap Cerita yang Penulis Suguhkan (*)

Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya

Kisah Mistis : Jimat Anti Pesugihan

Sumber / Penulis : Djoko Judiantoro
Sulitnya mencari rejeki dengan cara halal kadang membuat seseorang dibutakan mata batinnya, hingga harus melakukan persekutuan dengan setan. Tak hanya dengan cara merampok, mencuri dan menjambret, melakukan perbuatan korupsi untuk mendapatkan uang dengan cara haram juga menjadi salah satu bagian dari persekutuan.

Kisah Mistis : Jimat Anti Pesugihan
Perbuatan tercela tersebut dilakukan demi meraih satu tujuan yaitu kebahagian duniawi.
Perbuatan tercela yang dilakukan oleh orang orang yang tersesat ini sebenarnya terjadi atas dorongan setan yang mempengaruhi mata bathin dan pikiran manusia. sehingga tak lagi bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Kejahatan merampok, mencuri, korupsi dan kegiatan yang memperkaya diri sendiri dengan menerjang tatanan perundang undangan dan agama adalah sebuah persekutuan yang terjadi karena ajakan sesat dari setan. Hal ini berbeda dengan persekutuan yang dilakukan dengan cara mencari pesugihan.

Meski memiliki kesamaan memperkaya diri sendiri, tetapi persekutuan dengan
pesugihan merupakan dosa lahir dan bathin yang akan dialami oleh manusia setelah orang tersebut mati. Selain ilmu pelet wanita merugikan orang lain dosa yang dilakukan oleh pemilik pesugihan akan semakin bertambah berat karena menjadi budak setan, sekaligus mengorbankan nyawa sanak saudaranya demi tujuan untuk memperkaya diri sendiri.

Mereka yang menempuh cara ini biasanya tak hanya lemah iman-nya, namun tak lag mengganggap bahwa Tuhan itu sebenarnya ada, mereka lebih memepercayai setan dengan melakukan persekutuan ghaib atau yang lebih dikenal dengan istilah perkawinan ghaib. Seluruh pesugihan yang dipuja oleh manusia pada dasarnya harus mempersembahkan tumbal nyawa, hanya saja beberapa pesugihan juga bisa mencari tumbal dengan caranya sendiri. Tetapi satu hal yang harus dilakukan oleh pemujanya yaitu harus menyiapkan satu tumbal nyawa dari orang terdekat yang sangat di sayangi pada saat awal melakukan pemujaan pesugihan.
Beberapa pemujaan yang biasa di pakai untuk pesugihan diantaranya adalah Buto Ijo, Kandang Bubrah, Blorong, Kethek Ngipri (siluman kera), Buto Bajang dan Tuyul. Seluruh pesugihan ini pada saat awal melakukan pemujaan harus mempersembahkan tumbalNyawa, hanya saja jarak pelaksanaan pengorbanan nyawa antara yang satu dengan yang lainya berbeda beda. Blorong, Buto Ijo, Kandang Bubrah, Buto Bajang harus mempersembahkan tumbal nyawa saat pertama kali melakukan persekutuan.

Berbeda dengan pesugihan Tuyul dan Kethek Ngipri, pesugihan jenis ini akan memakan korban nyawa orang yang dikasihani pemujanya pada saat telah memiliki kekayaan yang berlimpah.
Selain memakan tumbal nyawa, pemilik pesugihan ini juga akan di makan iman dan raganya oleh setan yang dipujanya. Salah satunya adalah Tuyul, pemilik Tuyul harus menyusui bocah kecil setiap hari, setiap saat sampai akhirnya tubuh pemilik Tuyul akan mengering dan mati Hal yang sama juga dialami pemilik pesugihan Kethek Ngipri (siluman kera). Pemuja pesugihan ini harus bersedia melayani nafsu birahi setan yang dipujanya sampai akhirnya si pemuja akan mati karena intisari kekuatan raganya di hisap oleh siluman kera. Segala persekutuan yang dilakukan dengan setan pada akhirnya tetap harus mengorbankan nyawa, sekaligus akan menjadi budak setan sepanjang masa sampai dengan hari penghakiman umat manusia.

Tak sedikit pemilik pesugihan mengorbankan nyawa orang orang yang ada di sekitar mereka, dari mulai karyawannya hingga saudara terdekat asalkan masih ada kaitan sedikit saja, mereka bisa dijadikan tumbal pesugihan. Untuk itu kita harus mewaspadai kehidupan seperti ini, banyak orang yang terlihat baik dan dermawan yang sebenarnya mereka adalah pemilik pesugihan.
Kedermawanan dan kebaikan orang orang seperti ini biasanya dipakai untuk menutup-nutupi pesugihan yang dimilikinya. Berbagai cara bisa dilakukan untuk menanggulangi atau menolak bala pesugihan agar pesugihan tak menjadikan orang orang terdekat mereka menjadi tumbal. Cara ini diantaranya dengan memasang Jimat atau tumbal tolak bala di dalam rumah. Jimat anti Pesugihan ini diantaranya adalah Tulang Babi, gelungan rambut, bambu kuning dan sodo lanang, emas dan kayu cendana, serta jimat rajah kalacakra.

Tulang Babi Menurut penuturan Dewi Ayu, salah seorang spiritualis perempuan yang berasal  dari Karanganyar, Surakarta, tulang babi bisa dipakai sebagai salah satu syarat untuk menghilangkan dan melenyapkan Blorong. Keampuhan tulang babi terletak pada rahang bawah bagian depan mulut. Tulang rahang yang berbentuk huruf V ini tak hanya biasa dipergunakan warga tionghoa sebagai sesaji tolak bala, tetapi tulang rahang babi biasanya di kubur sebagai sarana media penolak keburukan dalam fengshui China.
Tulang babi secara alami memiliki daya penolak kekuatan magis apabila berdekatan dengan mahkluk ghaib jenis siluman, aura yang keluar dari dalam tulang mengandung unsur panas yang sangat kuat sekali, oleh karena itu segala siluman dan jin jahat tak akan kuat apabila berdekatan dengan tulang babi.

Dengan cara dikubur di dalam tanah atau dimasukan ke dalam ruangan yang khusus di pakai sebagai sarana pemujaan pesugihan, pesugihan Blorong akan lenyap dari pemiliknya. Kamar kosong tersebut sebenarnya merupakan syara utama sebagai tempat untuk pemujaan, oleh karena itu tulang babi sebisa mungkin bisa dimasukan kedalam kamar pemujaan pada saat hendak melenyapkan Blorong.
Gelungan rambut tak hanya dipakai sebagai pelengkap merias bagi masyarakat Jawa pada saat mengenakan pakaian tradisional kebaya, tetapi gelung rambut dalam ajaran ilmu kejawen juga bisa di pakai sebagai senjata penolak pesugihan Buto Ijo. Kegunaan gelungan rambut sebenarnya telah dilakukan sejak dari jaman nenek moyang dulu yang telah mengenal keberadaan siluman pesugihan Buto Ijo.

Penggunaan Gelung Rabut sebagai senjata pelebur Buto Ijo sebenranya diambil berdasarkan sifat alam yang dimiliki oleh manusia, rambut sebagai mahkota yang diberikan Tuhan kepada manusia banyak memiliki manfaatnya, selain berfungsi sebagai keindahan, aura yang terpancar keluar dari rambut konon secara alami mampu dipakai untuk melenyapkan mahkluk jahat. Penyatuan ribuan helai rambut semakin menguatkan daya kekuatan alam pada saat di pakai sebagai senjata untuk menangkal Buto ijo.
Diperlukan satu keberanian khusus saat seseorang mempersenjatai diri dengan gelung rambut ketika hendak melenyapkan Buto Ijo, karena mereka yang membawa cemeti gelungan rambut secara harafiah juga akan mampu melihat sosok siluman Buto Ijo yang sesungguhnya. Oleh kerena itu jimat gelung rambut biasanya hanya dipakai di kalangan spiritual sebagai senjata pamungkas pengusir Buto Ijo.
Bambu Kuning dan Sodo Lanang Jimat ini biasanya dipakai sebagai salah satu sarana untuk menolak Tuyul, bambu kuning dan sodo lanang (lidi yang berasal dari daun aren) dipasang di samping pintu depan rumah, agar Tuyul yang hendak menyatroni rumah saat melihat kedua benda tersebut  akan mengurungkan niatnya.
Sodo lanang sebenarnya merupakan salah satu senjata yang bisa di pakai untuk memukul mahkluk gaib, oleh karena itu sodo lanang menjadi senjata yang menakutkan bagi pesugihan Tuyul.

Sedangkan bambu kuning oleh orang tua jaman dulu seringkali dipakai sebagai sarana penolak bala, tuah alam yang ada di dalam bambu kuning dipercaya mampu meleburkan segala kekuatan jahat ilmu hitam.
Tak jarang kekuatan bambu kuning juga sering dipakai untuk menghilangkan kedigdayaan seseorang yang memiliki ilmu kebal. Meski dianggap hanya sebatas benda yang berasal dari tumbuh tumbuhan, namun sebenarnya memiliki khasiat daya kekuatan untuk tolak bala Emas dan kayu cendana biasanya di pakai sebagai salah satu cara untuk memagari rumah dari serangan ghaib maupun terjangan siluman dan pesugihan. Selain berfungsi sebagai peredam panas, emas yang di tanam di atas kuda kuda rumah dengan cara dipantek (diganjal) kayu cendana banyak memiliki fungsi lain selain sebagai penolak bala.

Cara seperti ini telah dilakukan para leluhur sejak zaman dahulu kala, tak hanya rumah dengan arsitektur Joglo yang sering menggunakan cara tolak bala seperti ini, bahkan bangunan karaton sekalipun hampir seluruh tiang penyangga soko guru dan penuwun (kuda kuda kayu) di pasangi emas dengan cara di panthek menggunakan kayu cendana.
Pemasangan tumbal seperti ini akan membuat rumah Jawa dengan ciri khas Joglo terasa sejuk, dingin dan nyaman pada saat orang memasukinya.
Rajah, guratan mantera yang ditulis dengan kekuatan bathin juga bisa dipakai sebagai salah satu cara untuk menangkal mahkluk ghaib yang hendak berbuat jahat kepada seseorang, tak terkecuali para pesugihan.

Salah satu guratan rajah dalam ilmu kejawen kuno yang memiliki kekuatan ghaib sangat kuat adalah Rajah Kalacakra, guratan mantera yang ditulis dengan aksara Jawa walik ini konon berasal dari para dewa yang berfungsi sebagai cara untuk membalikan niat jahat.
“Meski peran Rajah Kalacakra sebenarnya berfungi sebagai peruwatan diri seseorang, namun karena kekuatan yang terkandung di dalam guratan rajah sangat kuat, maka banyak spiritualis yang memakainya sebagai penolak bala, tak terkecuali untuk menangkal pesugihan,” pungkas Dewi Ayu.
Ambil Hikmah dari setiap Cerita yang Penulis Suguhkan (*)
Dapatkan Sample GRATIS Produk sponsor di bawah ini, KLIK dan lihat caranya